<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402</id><updated>2011-12-14T19:03:01.361-08:00</updated><title type='text'>gudang</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-6095930964601909511</id><published>2009-12-07T02:00:00.000-08:00</published><updated>2009-12-07T02:05:08.729-08:00</updated><title type='text'>Ihwal Biografi Sastrawan Riau Modern</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Apresiasi Atas Buku Leksikon Sastra Riau)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Marhalim Zaini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, 6 Desember 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa pun pakar semiotika Roland Barthes (1915-1980) menggemaungkan, “the death of the author,” saya yakin, kita masih sangat percaya bahwa sosok sastrawan (pengarang) tak dapat dengan mudah “terpisah” dengan karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentu, kita juga tahu bahwa Roland Barthes memang tidak sedang hendak “memisahkan” keduanya, meski dia menandaskan tentang “matinya seorang pengarang.” Sebab, makna kematian di sini bukan berarti nama si pengarang serta merta terhapus dari karyanya, menjadi anonim nasibnya, akan tetapi ini soal “makna” yang menguar dari teks karyanya itu. Di titik ini, si pengarang tidak lagi punya “kekuatan” untuk menjangkau makna akhir dari (teks) karyanya. Tak ada otoritas tunggal. Begitu sampai ke tangan pembaca, teks seperti liar tak terkendali, dan “tanda-tanda” bertebaran, memproduksi makna-makna baru. Maka, jika begitu, bukankah yang “hidup” dan terus “lahir” adalah para pembaca?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa kabar si pengarang? Ya, mestinya dia tetap sebagai pengarang, yang terus bekerja melahirkan teks yang baru. Teks yang juga kelak, setelah lahir, akan menempuh perjalanan nasib yang sama. Apakah kemudian teks itu akan diterima dan tumbuh dalam dunia permaknaan pembaca yang beragam dan luas, serta menuai populeritas tersebab berbagai faktor yang membesarkannya, atau ia tersudut di ruang-ruang sunyi dan kehilangan daya hidup (juga oleh tersebab berbagai faktor intrinsik atau ekstrinsik), tentu kita serahkan saja pada waktu. Yang pasti, pengarang tak boleh berhenti dan menyerah oleh “nasib tak baik” yang menimpa karyanya, juga “nasib tak baik” yang juga kerap menimpa diri si pengarang sendiri. Tak beruntung secara ekonomi misalnya, tak pula “dihargai” dalam lingkungan sosial yang masih jauh dari tradisi keberaksaraan, dan sejumlah ketakberuntungan lain yang kerap membuat banyak orang untuk lari dari pilihan menjadi pengarang. Maka kondisi semcam ini pun, pengarang (mestinya) tetap terus saja menyusun jejak-jejak biografisnya (lewat karya-karya) dalam sejarah duniakepenulisan/kesusastraan, sampai ia menemu batas, menemu tetes akhir dari tinta kalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejak. Ya, ihwal merekam jejak inilah yang sesungguhnya terkait dengan hadirnya berbagai buku dalam berbagai bentuk: kamus, leksikon, ensiklopedi, buku pintar, bibliografi, dan entah apa lagi namanya. Ihwal merekam jejak inilah pula yang sedikit-banyak dapat “mengobati” rasa kecil-hati si pengarang, untuk kemudian membantunya meneguhkan eksistensi, baik secara individu maupun komunal. Tapi kenapa jejak? Sebab yang tertulis/tertera di sana adalah sesuatu yang lampau, yang telah terjadi, yang telah dilalui, sebuah sejarah. Maka dalam konteks dunia penciptaan sastra, jejak itu adalah karya. Jejak seorang pengarang adalah karya. Tak pernah ada yang namanya pengarang, sebelum karya lahir. Dan “nilai” dari karya pulalah yang akan membuat jejak perjalanan seorang pengarang menjadi penting atau tidak, menjadi bernilai atau sekedar tercatat namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, tak dapat dinafikan bahwa kehadiran buku-buku sejenis ini adalah referensi penting bagi para peneliti sastra, terutama yang hendak mendekati kajian melalui struktural genetik, psikologi sastra, sosiologi sastra, dan beberapa pendekatan lain. Studi tentang tokoh sastra pun secara historis, sudah sangat banyak dilakukan para sejarawan bahkan sejak era Yunani Kuno. Dan aspek biografi, menjadi tak terhindarkan hadir sebagai salah satu sumber utama mereka. Artinya, lewat studi inilah kelak sebuah buku sejenis ini diuji, apakah nama-nama yang tercantum di dalamnya representatif atau tidak, sudah patut dicatat atau belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak, buku yang mencoba merekam jejak dunia kesusastraan kita di Indonesia. Pamusuk Eneste saja setidaknya telah menyusun dua buku sejenis, Leksikon Susastra Indonesia (Balai Pustaka, 2000), dan Buku Pintar Sastra Indonesia (Kompas, 2001). Berikutnya Hasanuddin WS dengan buku Ensiklopedia Sastra Indonesia (Titian Bandung, 2004). Jauh sebelumnya, di tahun 1989, seorang dosen dari University of London, Ernest Ullich Krastz, juga telah menyusun Bibliografi Karya Sastra Indonesia, spesifikasi tentang naskah drama, prosa, dan puisi yang terbit di majalah di tahun 1920-1980. Belum lagi yang ruang lingkupnya lebih kedaerahan, seperti Leksikon Sastra Jakarta, Leksikon Sastra Aceh, dan termasuklah di Riau yang kini telah hadir buku Leksikon Sastra Riau, selain juga di dunia maya yang sedang dikerjakan oleh Sutrianto dengan tajuk Pusat Dokumentasi Sastra Melayu Riau. Apapun bentuk dan namanya, saya kira, pencinta sastra Riau khususnya, patut menyambut baik berbagai upaya untuk pengembangan dan pergerakan sastra di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leksikon Sastra Riau yang disusun oleh Husnu Abadi dan &lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;M Badri &lt;/span&gt;(diterbitkan oleh BKKI Riau dan UIR Press, Januari 2009) adalah juga sebuah jejak. Karena dalam buku setebal 154 halaman ini terkandung biografi 173 sastrawan. Jika mendasarkan diri pada isi kandungan buku ini (yang hanya berisi biografi sastrawan) maka andai boleh saya memberi usul, ihwal penyebutan judul buku, hemat saya lebih terwakili jika diubah menjadi Leksikon Sastrawan Riau Modern. Kata “sastrawan” di sana jelas merujuk kepada individu pengarangnya, yang memang nampaknya menjadi fokus dalam penyusunan leksikon ini. Sebab, jika dipakai kata “sastra” maka mestinya yang terkandung di dalamnya tak hanya biografi sastrawannya, akan tetapi berbagai hal-ihwal yang terkait dengan dunia sastra di Riau secara lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semisal yang dapat kita tengok dalam buku yang disusun Pamusuk Eneste di atas. Dalam Leksikon Susastra Indonesia, selain biografi sastrawan juga tercantum berbagai majalah sastra dan penerbit sastra. Agaknya, untuk lebih spesifik lagi, dalam Buku Pintar Sastra Indonesia, Pamusuk membagi dalam sejumlah sub: Biografi Pengarang dan Karyanya, Majalah Sastra, Penerbit Sastra, Penerjemah, Lembaga Sastra, sampai pada Daftar Hadiah dan Penghargaan. Sementara itu, untuk kata “modern” sebenarnya hanya memberi garis pembatas dan wilayah kerja penyusunan buku ini, sebab memang lebih terfokus pada sastrawan Riau modern, tak termasuk para pengarang klasik macam Raja Ali Haji, Raja Zaleha, dan yang lain-lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya percaya, sebagai sebuah awal dari kerja yang sebetulnya tak bisa dikatakan mudah, Leksikon Sastra Riau (selanjutnya disingkat LSR) ini, tentu saja memiliki sejumlah kelemahan. Tidak mudah, karena tak semua penyuka sastra yang mau dengan rajin mengungkai satu persatu riwayat hidup sastrawan dan karyanya. Kerja semacam ini, sesungguhnya lebih pada kerja “pengabdian” terhadap dunia sastra. Kerja yang lebih didasari dari betapa pentingnya mencatat dan mengumpulkan proses kreativitas di dunia sastra. Jika pun kemudian terdapat kelemahan, ia adalah jalan menuju “kesempurnaan” (meski tak ada yang betul-betul sempurna di dunia ini). Lima tahun terkahir misalnya, saya juga telah turut melakukan kerja semacam itu, dengan mengkliping (hampir) semua karya penulis Riau yang termuat di media massa dan buku. Selain untuk dokumentasi, saya sangat membutuhkannya untuk dapat melakukan pembacaan atas pergerakan sastra yang terjadi dari tahun ke tahun. Setidaknya, tiap akhir tahun (sejak 2005-2008) saya berupaya untuk menulis “Catatan Sastra Riau.” Maka, harapan terbesar kita terhadap hadirnya LSR tentu dalam proses kerja-kerja berikutnya, bisa menjadi salah satu data dan dokumen representatif dan komprehensif tentang dunia sastra (di) Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk berupaya ikut mendukung terwujudnya harapan itu, di sini saya hendak mendiskusikan sejumlah hal. Selain, judul buku yang sudah saya ulas di atas, hal lain yang hemat saya patut dipertimbangkan adalah tentang penjelasan-penjelasan yang lebih “akademis” (di samping soal rujukan yang sudah disarankan dalam esai Musa Ismail di Harian Riau Pos, beberapa waktu lalu) dan lebih argumentatif tentang berbagai aspek metode yang dipakai penyusun dalam mengerjakan buku ini. Penjelasan itu tentu diharapkan tertera pada pengantar buku, sehingga pembaca dapat merujuknya ketika menemukan sejumlah hal yang “mengganggu.” Nah, pengantar yang saya temukan dalam buku LSR ini, hemat saya belum memadai untuk dapat menjawab beberapa hal yang “mengganggu” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antaranya soal selektivitas nama-nama yang masuk dalam LSR. Bagaimanakah sebenarnya metode (atau semacam standarisasi) yang dipakai penyusun untuk memilih dan juga memilah nama-nama yang masuk dalam daftar inventarisasi (daftar pendataan awal). Jika memang tujuannya “sekedar” bersifat dokumentatif, semata-mata hendak mengumpulkan semua yang “pernah” menulis sastra, meski hanya satu-dua karya, maka buku ini pun akan berhenti pada setakat titik itu. Kegelisahan awal penyusun—yang sempat diutarakan dalam pengantar buku ini—memberi kesan pada saya bahwa sebab utama buku LSR disusun adalah lebih pada karena tidak banyak ditemukannya nama-nama sastrawan Riau dalam berbagai buku sejenis. Saya kira, boleh jadi kerisauan ini juga menjadi kerisauan kita semua. Namun, andai saja, penyusun dapat menjelaskan satu atau dua nama yang dimaksud (yang tidak masuk dalam buku sejenis), dengan sejumlah data yang ada, maka ini tentu dapat membantu menyempurnakan buku yang disusun oleh Hasanuddin, maupun Pamusuk. Sebab, seturut Husnu Abadi, saya meyakini bahwa para penyusun buku sejenis, tampaknya memang tidak maksimal menjangkau “titik-titik penyebaran informasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, tidak banyaknya nama-nama sastrawan Riau masuk dalam buku sejenis itulah yang kemudian mendasari dan memotivasi penyusun buku LSR untuk juga menyertakan sejumlah nama yang menurut saya “mengganggu,” sehingga proses selektivitas menjadi terkesan lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, penjelasan biografis atas nama Qori Islami (hal. 78), yang lebih menunjukkan bahwa ia adalah seorang pembaca puisi, tanpa menyertakan satu pun judul karya, membuat nama itu tak representatif untuk masuk, meski telah melakukan pembacaan puisi sampai ke luar negeri. Contoh lain, nama Asori (tertulis di LSR, sementara dalam buku antologi puisi &amp;amp; cerpen pemenang lomba DKR, 1994 tertulis Nasori) dan nama Ruswanto (hal. 83) terdapat kesamaan kalimat biografi, yang membedakan hanya satu karya mereka masing-masing. Hal ini, saya kira, juga membuat pembacaan kita atas pengarang tersebut sangat terbatas, dan belum memadai untuk dapat disertakan dalam sebuah leksikon. Contoh lain, pada nama Saidat Dahlan (hal. 85), tak ada contoh karya sastra yang disebut di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi juri lomba penulisan sastra, saya kira, tak serta merta dapat memberi kategori sastrawan atas tokoh tersebut. Selain itu, agaknya penting juga membuat klasifikasi menjadi “Kritikus Sastra Riau” misalnya pada sejumlah nama yang tertera dalam LSR ini, seperti UU Hamidy, Muchtar Ahmad, dan beberapa nama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selektivitas juga terkait tentang penjelasan apakah sastrawan yang tertera dalam LSR dapat disebut sebagai “sastrawan Riau.” Penyusun memang telah memberi penjelasan prihal ini dalam pengantar, dengan kategori: lahir di Riau, atau tinggal di Riau, atau yang pernah mengenyam aura negeri Riau dengan bertempat tinggal beberapa masa di Riau. Pada prinsipnya, saya turut sepakat dengan kategori tersebut. Meskipun, harus juga dilihat apakah sastrawan tersebut juga melakukan proses menulis di Riau, dan ikut “mengalami” pergerakan sastra (di) Riau. Nama Sariamin Ismail (hal. 87) misalnya, dari keterangan biografinya, agak ragu bagi kita apakah ia bisa dikatakan sebagai sastrawan Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ia lahir di Pasaman, jadi guru di Bengkulu dan Bukittinggi. Keterangan bahwa “terakhir bermukim di Pekanbaru, dan punya kegemaran memelihara bunga” tak dapat menunjukkan indikasi yang akurat dan kuat bahwa ia dapat dikatakan sebagai sastrawan Riau. Meskipun misalnya banyak orang dari generasi Sariamin mengatakan bahwa ia memang benar sastrawan Riau, tapi jika merujuk ke buku LSR, pernyataan itu sulit dibenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Sariamin, ada nama Aldian Arifin (hal. 6), yang bagi saya, juga sulit untuk mengindikasikan bahwa ia adalah sastrawan Riau. Terutama karena sejumlah data utama menunjukkan ia lebih cenderung ke Sumatera Utara. Selain itu, hemat saya, penting juga bagi penyusun untuk memberi penjelasan lebih kuat tentang kenapa para sastrawan dari Kepulauan Riau juga masuk dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, terlepas dari berbagai tema diskusi yang saya suguhkan di atas, saya hendak mengapresiasi bahwa boleh jadi penyusun buku LSR ini sedang hendak memperlihatkan panorama (atau mungkin dinamika) perkembangan sastra Riau itu. Jika kita semua yakin bahwa mereka yang tercatat dalam LSR ini adalah para sastrawan Riau, maka hari ini, saat ini, kita patut berbangga sekaligus bersedih. Kenapa? Bangga karena rupanya demikian ramai sastrawan kita, demikian semarak dunia sastra kita. Bersedih, karena kita harus bertanya, di manakah (karya-karya) sebagian dari mereka kini?***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;SPN Marhalim Zaini, SSn, &lt;/span&gt;menulis dalam berbagai genre. Sepuluh bukunya telah terbit. Sejumlah sajaknya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan Portugal. Terpilih sebagai 100 Puisi Indonesia Terbaik 2008 dan 60 Puisi Indonesia Terbaik 2009 oleh Anugerah Pena Kencana. Diundang baca karya pada International Literary Biennale 2005 dan Ubud Writers and Readers Faetival 2007. Kini berkhidmat sebagai Kepala Sekolah Menulis Paragraf.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-6095930964601909511?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/6095930964601909511/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=6095930964601909511' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/6095930964601909511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/6095930964601909511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2009/12/ihwal-biografi-sastrawan-riau-modern.html' title='Ihwal Biografi Sastrawan Riau Modern'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-4666278106145900462</id><published>2009-12-01T01:09:00.000-08:00</published><updated>2009-12-01T01:11:48.083-08:00</updated><title type='text'>Inferioritas Anak Negeri dalam ”Pipa Air Mata” dan ”Jalan Sumur Mati”</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oleh Dr Junaidi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 102);"&gt;Sumber: Riau Pos, 29 November 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-weight: bold;"&gt;Cerpen “Pipa Air Mata” (karya M Badri)&lt;/span&gt; dan “Jalan Sumur Mati” (karya Olyrinson) sama-sama menampilkan potret masyarakat tempatan yang menderita meskipun mereka tinggal di lingkungan perusahaan minyak yang sangat kaya. Kedua cerpen ini dihimpun dalam buku Pipa Air Mata terbitan Yayasan Sagang Pekanbaru. Tulisan singkat ini bertujuan untuk mengungkapkan kondisi inferioritas masyarakat tempatan berbanding dengan superioritas perusahaan minyak besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eksplorasi Bumi untuk Siapa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul kedua cerita ini menunjukkan bahwa cerita ini berkaitan dengan keberadaan sebuah perusahaan minyak. Kata “pipa” dalam judul cerita pertama berkaitan dengan alat utama yang digunakan perusahan minyak untuk mengalirkan minyak. Bila kita berjalan mengelilingi area ladang minyak, maka kita akan melihat begitu panjangnya pipa. Bagi perusahaan minyak, pipa sangat penting untuk mengalirkan minyak dari satu tempat ke tempat lainnya. Kalau tak ada pipa entah dengan apa minyak itu dialirkan. Tetapi dalam cerita pertama, kata “pipa” disandingkan dengan kata “air mata”. Penyandingan ini memberikan makna yang sangat ironis sebab pipa yang seharusnya berisikan minyak ternyata berisikan air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini bermakna bahwa ada penderitaan yang sangat mendalam dirasakan oleh masyarakat tempatan dengan kehadiran perusahaan minyak. Perusahaan minyak memang identik dengan kekayaan dan kemewahan sebab harga minya memang sangat mahal di dunia. Makna pipa bersifat paradoks terhadap hubungan perusahaan minyak dan masyarakat tempatan. Bagi perusahan minyak, pipa merupakan alat untuk menghasilkan dolar sedangkan bagi masyarakat tempatan pipa itu adalah penderitaan sebab perusahaan itu telah menghancurkan kampung, masyarakat, dan identitas masyarakat tempatan. Bagi masyarakat tempatan pipa minyak merupakan bencana teknologi yang telah meluluhlantakkan kehidupan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul “sumur mati” menegaskan bahwa cerita ini berkaitan dengan keberadaan sumur minyak milik sebuah perusahaan minyak. Frasa “jalan sumur mati” bermakna kehidupan masyarakat tempatan tidak jelas lagi sebab telah dihambat oleh perusahaan minyak. Tanah dan hutan telah dirampas oleh perusahaan minyak sehingga masyarakat tempatan tak punya lahan lagi untuk dikembangkan. Bagi perusahan minyak, kandungan minyak yang terdapat dalam perut bumi adalah uang sedangkan bagi masyarakat tempatan itu tidak menghasilkan manfaat, padahal minyak itu terdapat di negeri mereka sendiri. Masyarakat hanya menjadi objek penderita sedangkan pihak perusahaan terus mendapat keuntungan yang melimpah ruah dari minyak yang terus disedot dari perut bumi. Bagi perusahaan minyak, setiap tetes minyak yang terdapat dalam pipa adalah dolar. Sedangkan bagi masyarakat setiap tetes minyak yang terdapat dalam pipa adalah penderitaan yang mereka rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Inferioritas Masyarakat Tempatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemiskinan yang dialami oleh masyarakat tempatan menjadi isu utama dalam kedua cerpen ini. Kemiskinan itu pula yang membuat masyarakat tempatan sangat inferior dibandingkan dengan pihak perusahan minyak. Dalam “Pipa Air Mata” gambaran kemiskinan ditampilkan melalui tokoh Awang atau Gabriel yang berasal dari Suku Sakai. Pengeboran minyak di kampung Awang tidak mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Sebaliknya ia mendatang penderitaan yang amat mendalam dan bahkan telah menghancurkan kehidupan masyarakar Sakai seperti ungkapan Awang: “Setelah menancapkan pipa berkarat di kampung kami, lalu menaminya dengan luka. Mengoyak kehidupan hingga mengalirkan air mata abadi.” Begitu sangat menyedihkan gambaran nasib masyarakat tempatan. Mereka tiada kuasa untuk menolak keberadaan perusahan minyak sebab mereka miskin, lemah, dan tak berpendidikan. Mereka kalah menghadang kekuatan maha besar perusahaan minyak yang bertaraf internasional. Masyarakat kecil terlalu inferior untuk memperjuangkan nasib mereka. Nasib mereka sekarang benar-benar ditentukan oleh kekuatan perusahan minyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam “Jalan Sumur Mati” potret kemiskinan masyarakat tempatan terlihat dari dua tokoh wanita yang mencuri pipa bekas dari tempat pembuangan pipa di sekitar ladang minyak. Kedua wanita itu terpaksa harus mencuri pipa untuk mendapat sesuap nasi bagi cucunya yang sedang kelaparan. Mencuri pipa adalah keterpaksaan sebab tak ada lagi yang bisa mereka perbuat untuk memberi makan keluarganya. Mereka bukan mencuri pipa yang sedang berfungsi untuk mengalirkan minyak. Mereka juga pasti tak sanggup untuk mencuri minyak. Mereka terlalu lemah untuk melakukan itu. Mereka hanya mengambil pipa bekas yang tak berguna lagi bagi perusahan minyak seperti yang diungkapkan oleh salah seorang wanita tua: “Sudah empat hari kami tidak makan nasi, Bapak. Kalau aku tidak pulang membawa besi itu, cucuku akan makan tanah. Kasihanilah kami. Kami hanya mencari besi bekas, apa itu akan merugikan, Bapak? Kami lapar! Kami lapar! Kami hanya makan dari remah-remah perusahaan ini. berilah kami sedikit, Bapak!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mereka tetap saja dianggap mencuri oleh sang petugas sekuriti sebab pipa itu diklaim milik perusahaan minyak. Kondisi ini sangat ironis sebab disekitar area perusahaan yang kaya itu ternyata ada orang yang kelaparan dan ketika masyarakat tempatan mencari sisa-sisa pipa mereka pun dianggap pencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Superioritas Barat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan ekplorasi minyak bumi di Indonesia selalu diatur oleh pihak luar negeri atau pihak asing. Ini menyebakan hasil bumi kita sendiri lebih banyak mendatangkan keuntungan bagi orang asing dari pada untuk bangsa sendiri. Kita memang pemilik sah bumi ini tetapi karena ketidakberdayaan, kita tak mampu mengelola bumi kita sendiri untuk kesejahteraan bangsa. Kita hanya jadi penonton yang baik sedangkan orang asing semakin kaya karena mengeksplorasi bumi kita. Bagi pihak asing, tidak perlu memiliki bumi Indonesia, tetapi yang terpenting bagi mereka adalah mampu mengeruk kekayaan alam atau bumi Indonesia. Superioritas Barat memang sangat berperan dalam eksplorasi minyak. Bahkan mereka mampu membuat “zona eksklusif” beralakan Barat di bumi kita sendiri. Sehingga ketika kita masuk ke zona mereka kita pun diperlakukan sesuai dengan prosedur mereka. Tetapi apa boleh buat, superioritas Barat telah menentukan “takdir” kita. Mereka sangat kuat dan bahkan kekuatannya seperti “tuhan” yang menentukan masyarakat tempatan yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam “Pipa Air Mata”, orang asing berperanan besar dalam menghancurkan tatanan kehidupan masyarakat Sakai. Orang asing tidak hanya menghancurkan aspek fisik masyarakat tetapi juga menghancurkan kebudayaan dan identitas orang Sakai. Secara fisik, hutan sebagai tempat berteduh orang Sakai telah dihancurkan oleh orang asing yang membuka ladang minyak di tanah orang Sakai seperti cerita Awang: “Saat itu hutan masih lebat, rawa-rawa mengalirkan air dengan cernih. Lalu datanglah orang-orang bertubuh tinggi besar, berambut dan berkulit merah. Mereka datang ke hutan dengan pengawalan tentara. Survey katanya, sebab di hutan itu ditengarai terdapat banyak minyak bumi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kultural, identitas orang Sakai juga telah mengalami perubahan. Ini dapat terlihat dari persoalan identitas diri anak orang Sakai yang bernama Awang. Orang asing yang bernama William yang bekerja di perusahaan minyak telah merubah nama Awang menjadi Gabriel. Dengan kekuasaanya ia mampu merubah nama Awang menjadi Gabriel sebab ia telah mengangkat Gabriel menjadi anak angkat. Ini bermakna orang Barat telah menjadikan orang Sakai tidak menjadi diri mereka sendiri. Dalam konteks poskolonialsime, dominasi Barat telah membuat orang Timur semakin tersingkirkan. Meskipun Awang telah menjadi Gabriel, Awang tetap berupaya untuk mempertahankan jati dirinya: “Aku bukan Gabriel, si malaikat itu. Bukan, aku bukan malaikat. Aku Awang si anak sakai degil, si anak hutan yang takut pada suara gergaji mesin dan buldoser. Lalu kenapa namaku menjadi Gabriel? Apa karena si keparat William, ah bukan keparat. Dia menjadi papaku, orang asing yang membesarkanku. Setelah kampungku luluh lantak, tanpa bekas. Betul, tanpa bekas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam diri Awang ada pertentangan. Akankah ia menyalahkan orang Asing yang telah menghancurkan kampungnya? Tetapi sulit bagi Awang untuk menyalahkan orang Asing sebab ia sendiri telah dibesarkan oleh orang asing. Ini lah perangkap orang asing yang sebenarnya. Ia seolah-olah menolong kita tetapi ada perangkap yang mengikat kita supaya kita terus bergantung dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam “Jalan Sumur Mati” keterlibatan orang asing dalam mengekploitasi hasil bumi Indonesia terlihat dari keberadaan perusahaan minyak yang dimiliki oleh orang asing. Meskipun secara eksplisit cerita ini tidak menggunakan sebuatan orang asing, citra perusahaan minyak di Indonesia selalu berkaitan dengan dominasi orang asing. Apalagi di Riau, perusahaan minyaknya berkaitan erat dengan perusahaan asing. Dengan demikian, kekuatan Barat juga sangat membelenggu dua orang wanita tua yang mencuri pipa. Kekuatan Barat telah menyebabkan mereka tidak mampu hidup secara layak di tanah air mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita pergi ke Minas, Duri, Dumai dan beberapa daerah sekitarnya, kita akan lebih merasakan kondisi masyarakat sekitar area ladang minyak seperti yang digambarkan kedua cerita ini. Kedua cerita ini telah mengangkat realitas kehidupan masyarakat sekitar area operasional perusahaan minyak. Kedua cerita ini dapat menggugah hati ketika kita melihat penderitaan, kemiskinan, dan inferioritas masyarakat tempatan. Adalah ironis ketika pipa minyak yang mengantarkan ribuan dolar bagi orang asing, bagi pemerintah pusat, bagi pejabat, dan bagi kelompok elit lainnya. Tetapi bagi masyarakat tempatan ternyata pipa itu bermakna penderitaan sebab perusahaan telah mengancurkan tatanan kehidupan mereka.&lt;br /&gt;Masyarakat tempatan menjadi semakin hilang jati diri akibat dipaksa untuk meninggalkan kebudayaan mereka. Mereka terpaksa meninggalkan cara hidup dan tradisi mereka. Mereka dipaksa hidup secara modern tetapi sayangnya mereka tidak disiapkan untuk itu sehingga mereka selalu kalah bersaing dengan orang lain. Untuk kembali hidup dengan tradisi mereka, mereka tak bisa lagi sebab hutan dan alam mereka telah dirusak. Untuk bersaing dengan orang modern mereka juga tak sanggup. Akibatnya, mereka menjadi masyarakat yang mengambang, inferior, dan tidak tentu arah sehingga mereka akan selalu menjadi objek penderita dalam persaingan di dunia ini.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dr Junaidi adalah Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning dan Dosen S-2 Ilmu Komunikasi Universitas Muhamadiyah Riau.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-4666278106145900462?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/4666278106145900462/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=4666278106145900462' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/4666278106145900462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/4666278106145900462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2009/12/inferioritas-anak-negeri-dalam-pipa-air.html' title='Inferioritas Anak Negeri dalam ”Pipa Air Mata” dan ”Jalan Sumur Mati”'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-5589095468772440392</id><published>2009-11-22T18:29:00.000-08:00</published><updated>2009-11-22T18:32:15.520-08:00</updated><title type='text'>Membangun Iklim, Merambah Kompetisi</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Hary B Kori’un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-style: italic;"&gt;Sumber: Riau Pos, 22 November 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan sastra yang dihadapi Riau saat ini bukan pada kurangnya jumlah penulis atau miskinnya karya yang dihasilkan. Di ruang budaya beberapa media massa yang menjadi salah satu barometer —misalnya ruang Budaya Riau Pos— selalu muncul penulis baru dan selalu lahir karya baru, baik berupa cerpen, sajak maupun telaah sastra dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku sastra yang diterbitkan juga banyak setiap tahunnya, baik itu dalam bentuk kumpulan sajak, kumpulan cerpen, novel dan sebagainya. Yang menjadi salah satu pertanyaan sekarang adalah, apakah dunia sastra Riau tumbuh dalam suasana yang kondusif dan kompetitif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondusif dan kompetitif. Barangkali dua kata itu memang harus dipikirkan ulang karena ketika bicara iklim, maka banyak hal dan variabel yang meski dimasukkan dan dilibatkan. Sedangkan jika bicara tentang kompetitif atau tidak, maka wilayahnya sanga luas karena ini menyangkut pada kualitas, keluasan distribusi, keluasan masyarakat pembaca dan yang paling penting adalah apresiasi pembacanya. Jika dua hal ini dikerucutkan pada lingkup yang lebih spesifik, yakni karya cerpen, apakah dunia penulisan cerpen di Riau –maksudnya ditulis oleh para pengarang Riau— saat ini sudah kondusif dan kompetitif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, ini sudah menjadi perdebatan klasik. Bahwa sejarah cerpen dimulai di Riau dengan cerpen-cerpen M Kasim dan Soeman Hs, itu tak bisa dibantah. Namun yang kemudian muncul ke permukaan, kekuatan sastra Riau ternyata lebih mengarah pada syair (pantun, sajak dan sebagainya). Dimulai dari Raja Ali Haji hingga munculnya penyair-penyair kuat seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ibrahim Sattah, Idrus Tintin, Rida K Liamsi hingga ke generasi yang lebih muda seperti Fakhrunnas MA Jabbar, Taufik Ikram Jamil sampai ke Marhalim Zaini, Budy Utamy di generasi terkini, memperlihatkan bahwa dunia syair selalu mendapat ruang yang sangat dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bidang novel, meski tak banyak, tetapi dari generasi ke generasi selalu muncul secara berkesinambungan. Setelah generasi Soeman Hs, muncul Ediruslan Pe Amanriza, Rida K Liamsi, Sudarno Mahyudin, Hasan Junus, Bustamam Halimy, Taufik Ikram Jamil hingga ke generasi Olyrinson, Nyoto, Marhalim Zaini, Gde Agung Lontar, Ahmad S Udi, Saidul Tombang, Fitri Mayani, Musa Ismail dan sebagainya, memberikan garansi bahwa penulisan novel di Riau tetap tumbuh dengan baik. Apa yang dilakukan Yayasan Bandar Serai dengan menyelenggarakan Ganti Award dalam empat tahun belakangan, memberi laluan kepada penulis novel untuk terus menulis, meski tak banyak yang mampu menapak secara luas ke tingkat yang lebih tinggi (nasional) dalam hal menyiaran karya (baik dalam bentuk cerita bersambung di media massa maupun dalam bentuk buku) maupun mampu menembus ketatnya dunia sayembara. Terakhir, novel Riau yang tersiar secara luas ke tingkat nasional adalah Bulang Cahaya (Rida K Liamsi), Tun Amoy (Marhalim Zaini, cerbung di Republika), Gadis Kunang-kunang (Olyrinson), Nyanyian Batanghari dan Jejak Hujan (Hary B Kori’un).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana dengan cerpen? Sebenarnya Riau juga tak pernah kekeringan penulis prosa pendek ini. Setelah generasi M Kasim dan Soeman Hs, Ediruslan Pe Amanriza, Taufik Ikram Jamil, Kazzaini Ks, Sutrianto, Fakhrunnas MA Jabbar, Mostamir Thalib, Olyrinson, Abel Tasman, Marhalim Zaini, Murparsaulian, Hang Kafrawi hingga ke generasi lebih muda secara usia seperti Pandapotan MT Siallagan, Sobirin Zaini, &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;M Badri,&lt;/span&gt; Ellyzan Katan dan yang lainnya, dunia cerpen Riau tak pernah berhenti berdetak. Hanya saja, tak banyak memang yang berani (berhasil?) menembus ketatnya persaingan dunia cerpen tingkat nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Taufik Ikram dan Fakhrunnas yang mampu menembus belantara cerpen Indonesia, memang muncul Olyrinson dan Marhalim, dan belakangan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;M Badri &lt;/span&gt;dan Pandapotan juga menyusul, tetapi setelah itu seperti muncul stagnasi. Selain mereka, tak ada lagi karya-karya cerpenis Riau yang mampu menembus belantara cerpen Indonesia, baik berupa munculnya buku kumpulan cerpen dengan tingkat distribusi yang luas (bukan hanya dicetak seadanya dan distribusinya tak jelas), maupun cerpen-cerpen yang dimuat di media massa dengan cakupan pembaca lebih luas, yang dalam hal ini tentu media nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan distribusi ini penting karena akan mentukan apakah sebuah karya tersebut dibaca oleh kalangan luas atau tidak. Begitu pentingnyakah publikasi secara nasional? Ya, penting, karena itu akan menentukan sendiri eksistensi sang penulis, dan sekaligus sebagai seleksi kualitas. Dengan tampil di media yang lebih besar, tingkat seleksinya lebih ketat, dan pastinya akan memperlihatkan mutu sebuah karya tersebut.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMBAHAS hal seperti di atas seperti membahas sesuatu yang berulang-ulang. Ihwal sastra dan pengarang sudah ditulis berulang-ulang oleh banyak penulis esai maupun dalam banyak karya yang lain. Tetapi, itulah persoalan kita sekarang. Ketika daerah tetangga di Sumatera seperti Sumatera Barat (Sumbar), Sumatera Utara (Sumut), Nanggroe Aceh Darusallam (NAD) atau Lampung yang melahirkan penulis-penulis muda tahan banting yang tak kenal menyerah meski karya-karyanya ditolak banyak redaktur budaya media massa maupun penerbit buku, tetapi mereka terus berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Jakarta, Yogyakarta dan Bandung, harus diakui Sumbar kini memiliki banyak penulis prosa yang mampu bersaing di tingkat nasional. Setelah generasi AA Navis, Chairul Harun, Abrar Yusra, Harris Effendi Thahar, Darman Moenir, Gus Tf Sakai, Khairul Jasmi, Yusrizal KW, Iyut Fitra, Ode Bartha Ananda, Sudarmoko, Agus Hernawan, kini muncul anak-anak muda berusia di bawah 25 tahunan bahkan ada yang masih belum tamat dari studinya S1-nya seperti Esha Tegar Putra, Zelfeni Wimra, Romi Zarman, Igoy El Fitra, Yetti A KA, Pinto Anugrah, Ade Efdira, Dedy Arsha dan lain sebagainya. Mereka tidak hanya eksis menulis di media-media lokal Sumbar, tetapi juga merambah koran-koran yang memilik halaman budaya bergengsi seperti Kompas, Jawa Pos, Majalah Horison, Republika, Media Indonesia, Suara Pembaruan, Riau Pos, Pikiran Rakyat, Jurnal Nasional, dan lain sebagainya. Selain itu, beberapa di antaranya sudah menerbitkan buku yang diterbitkan oleh penerbit lumayan besar dengan tingkat distribusi yang menyebar ke seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampung juga melakukan regenerasi sastra dengan baik. Setelah generasi Oyos Saroso, Iswadi Pratama, Isbedy Stiawan ZS, Ari Pahala Hutabarat dan sebagainya, di bawahnya muncul Dahta Gautama, M Arman AZ, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, dan sebagainya yang sudah menasional. Sementara NAD, masih mengandalkan Azhari, M Fauzan dan beberapa nama lainnya. Di Sumut, nama Hasan Al Bana sudah mulai mampu berbicara banyak diikuti beberapa nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Regenerasi yang muncul di daerah-daerah tersebut, memang diset oleh beberapa sastrawan senior yang peduli. Mereka membangun sanggar, kelompok, komunitas dan sebagainya untuk memberikan tempat kepada anak-anak muda untuk berkreasi. Mereka berkarya dan kemudian dibahas bersama dilihat kekurangan dan kelebihannya sebelum dikirimkan ke media massa. Hal itu terus dilakukan dengan upaya-upaya yang lebih intens, dan akhirnya satu per satu mereka muncul dan eksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Riau, tak banyak yang melakukan itu. Ada beberapa komunitas yang muncul tak memberi kontribusi berarti kepada lahirnya penulis muda yang tangguh dan tak kenal menyerah karena karena hanya tergantung pada proyek pemerintah. Hanya beberapa komunitas penulis yang serius melakukannya seperti Paragraf, Forum Lingkar Pena (FLP) dan beberapa lagi. Selain itu, mereka masih menjadikan media lokal sebagai sasaran utama, bukan media nasional, sehingga ketika karya-karyanya tak dimuat di medai lokal, mereka patah semangat, bahkan ada yang menganggap redaktur budaya media lokal tak care terhadap kelahiran generasi baru. Inilah kemudian yang muncul ke permukaan, bukan mereka terus berupaya bekerja keras dan mencari celah untuk terus memperbaiki karyanya.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KUMPULAN Cerpen Kolase Hujan ini adalah buku kesekian yang sengaja diterbitkan oleh Riau Pos, yang salah satu gagasan idealnya adalah memberi semangat kepada para penulis prosa di daerah ini untuk terus berkarya lebih baik lagi. Sebagai kumpulan karya terpilih, bukan berarti cerpen-cerpen yang masuk dalam buku ini akan memberi kepuasan kepada semua orang bahwa cerpen-cerpen tersebut memang terbaik dibanding yang lainnya yang mungkin tak masuk dalam kumpulan ini. Namun, dengan penilian yang mungkin sangat relatif, cerpen-cerpen tersebut tetap bisa dipertanggungjawabkan sebagai cerpen yang layak masuk dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dalam buku ini, selain nama-nama “lama” yang masih hampir selalu masuk dalam kumpulan sebelumnya, ada beberapa nama baru yang untuk pertama kalinya terpilih dan hampir semuanya perempuan. Mereka misalnya Budy Utamy, perempuan penulis asal Riau yang selama ini sudah eksis di bidang sajak. Buku sajaknya yang telah terbit adalah Rumah Hujan (Frame Publishing, Jogjakarta 2007). Selain piawai menulis syair, Budy ternyata memiliki kemampuan yang baik dalam menulis prosa. Cerpen “Perempuan Penenun Hujan” yang ditulisnya, memperlihatkan bahwa Budy Utamy memiliki bakat yang baik jika terus dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan lainnya adalah Dian Hartati. Gadis kelahiran Bandung ini selama ini juga sangat eksis dalam menulis sajak dan dimuat di banyak media nasional. Dian menulis cerpen berjudul “Perempuan Kupu-kupu”, berkisah tentang seorang manusia yang bermetamorfosis menjadi kupu-kupu, dan mengingatkan kita pada beberapa karya Milan Kundera. Endah Sulwesi, perempuan asal Jakarta yang selama ini dikenal sebagai peresensi buku dan dikenal luas, telah beberapa kali menulis cerpen dan salah satunya adalah “Kelana”, yang berkisah tentang perjuangan hidup seorang aktivis kemanusiaan yang berakhir dengan tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama-nama baru yang cerpennya masuk dalam kumpulan ini antara lain Fedli Azis, Raja Isyam Azwar, Riki Utomi, dan Jefry al Malay. Mereka mengusung beragam tema dengan berbagai persoalan masyarakat yang diketengahkan. Meski ada kelamahan di sana-sini, tetapi cerpen-cerpen mereka tetap menyuguhkan hal keseharian yang barangkali luput dari ingatan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar itu, nama-nama seperti Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;M Badri, &lt;/span&gt;Sobirin Zaini, Fariz Ikhsan Putra, Pandapotan MT Siallagan, Hang Kafrawi, Ellizan Katan, Sutrianto Az-Zumar, Romi Zarman, Yetti A KA, Olyrinson, Nyoto dan Musa Ismail, adalah nama-nama familiar dalam khasanah sastra Riau dan Indonesia. Mereka tidak hanya berkutat di media lokal, tetapi juga telah menjadi bagian penting dari belantara sastra Indonesia dengan kebihan masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, kumpulan cerpen ini tidak akan memuaskan banyak orang karena sastra adalah sebuah karya yang penilaian kualitasnya sangat relatif meski tetap ada standar-standar yang bisa menjadi acuan dalam menilainya. Sebagai sebuah antologi, Kolase Hujan diharapkan akan tetap menjadi pemacu semangat bagi generasi terkini sastra Riau untuk terus berkarya dan selalu mencari kebaruan serta terus melakukan peningkatan kekuatan karyanya. Sebab, jika masuk dalam kompetisi ke wilayah yang lebih luas, maka kualitas adalah yang utama.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hary B Kori’un, adalah editor buku dan redaktur budaya Riau Pos. Tulisan ini adalah pengantar Kumpulan Cerpen Kolase Hujan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-5589095468772440392?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/5589095468772440392/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=5589095468772440392' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/5589095468772440392'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/5589095468772440392'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2009/11/membangun-iklim-merambah-kompetisi.html' title='Membangun Iklim, Merambah Kompetisi'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-6309950381367148230</id><published>2009-11-22T18:19:00.001-08:00</published><updated>2009-11-22T18:27:06.208-08:00</updated><title type='text'>Generasi Pengeluh</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Oleh Hary B Kori’un&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sumber:  Riau Pos, 06 September 2009&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU siang di hari Ahad, Pandapotan MT Siallagan, sastrawan yang pernah lama tinggal di Riau dan kini bekerja sebagai wartawan di Siantar, Sumatera Utara (Sumut), berkirim SMS. Isinya: “Bang, bacalah Horison edisi bulan ini, ada cerpenku dimuat di sana. Kasih masukan, ya...” Di lain waktu, dia mengirim SMS lagi: “Udah baca sajak saya di Kompas, Bang? Saya perlu masukan Abang...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal Panda –begitu koleganya memanggil— pertama kali bukan langsung bertemu muka, melainkan lewat cerpen, esai dan sajak-sajaknya di media Riau, terutama Riau Pos, sebelum saya bekerja di koran ini. Ketika kemudian saya diberi tanggung jawab untuk menjaga rubrik Budaya, dia intens mengirim naskah. Panda ‘lahir’ hampir satu generasi dengan &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;M Badri,&lt;/span&gt; Sobirin Zaini dan Binoto H Balian (kini juga kembali ke kampungnya di Sumut), plus beberapa penulis muda lainnya seperti Ellizan Katan, Syaiful Bahri, dan beberapa nama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berlomba-lomba mengirim naskah sebanyak-banyaknya ke Riau Pos, dan pada suatu saat naskah mereka tidak saya muat. Ada yang bertanya langsung, ada yang kirim SMS atau e-mail dan ada yang tak bereaksi apa-apa. Dalam sebuah pertemuan sambil minum kopi di Bandar Serai, kepada Badri, Sobirin dan Panda, saya katakan mengapa saya menahan naskah mereka. “Kalian sudah katam di Riau Pos, saatnya kalian ‘pergi’, bangun jaringan, jangan hanya berani di kandang. Kirim naskah kalian ke koran lain di luar Riau, entah ke Lampung, Padang, Surabaya, Semarang, Bandung atau Jakarta, di mana ada koran yang ada halaman budayanya. Sekali-kali, bolehlah kirim ke Riau Pos...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu setelah itu, saya mendengar Panda dan Binoto kembali ke Sumut, Syaiful Bahri ke Jakarta (kemudian kembali ke Pekanbaru), Badri ke Bogor meneruskan studi S2-nya, dan Sobirin masih tetap di Pekanbaru. Beberapa waktu lagi setelah itu, saya mendengar B&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;adri juara lomba cerpen CWI-Diknas&lt;/span&gt; (cerpen “Loktong”, 2006), cerpen dan puisinya memenangkan beberapa lomba lagi, tembus di koran Jakarta, Lampung, Semarang dan sebagainya. Begitu juga dengan Pandapotan yang mampu menembus Republika, Suara Merdeka, Horison, Kompas, masuk dalam Jurnal Cerpen Indonesia edisi penulis muda dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang penulis, jaringan itu penting, publikasi itu harus, karena di sanalah kita nanti tunak atau tidak berkarya. Memang tidak salah memfokuskan diri hanya menulis ke koran lokal daerah masing-masing, tetapi seharusnya sang penulis tidak puas dengan pencapaian itu. Selain namanya tak terpublikasikan secara luas, juga bisa seperti katak dalam tempurung: merasa besar di rumah sendiri, keluar tak dikenal siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, kata sastrawan Hasan Junus (HJ), ketika Riau belum punya koran harian, para sastrawan Riau seperti dirinya, Fakhrunnas MA Jabbar, Husnu Abadi, Ediruslan Pe Amanriza, Idrus Tintin dan yang lain, harus berjuang keras bertarung dengan penulis lainnya di koran Haluan (Padang), dan media-media Jakarta. Penulis perlu tempat untuk menyiarkan naskahnya, dan itu tak peduli di mana. “Ketika itu honornya kecil, tapi bukan itu tujuan kami. Kami harus berkarya dan menyiarkan karya itu. Persaingan di Padang sangat ketat karena di sana juga banyak penulis bagus...” kata HJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, anak-anak muda dari Sumatera Barat –mereka generasi di bawah Marhalim Zaini, Badri, Pandapotan dan sebagainya— seperti Romi Zarman, Yetti A KA, Esha Tegar Putra, Egoy El Fitra, Pinto Anugerah, Zelfeni Wimra dan yang lainnya, menyerbu hampir semua media di Indonesia, baik kecil maupun besar. Mereka mempertaruhkan karyanya ke meja redaktur budaya, dan dalam beberapa tahun terakhir hampir setiap pekan nama mereka mengisi halaman budaya Koran Tempo, Jawa Pos, Jurnal Nasional, Republika, Kompas, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Suara Pembaruan dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka tahu halaman budaya Riau Pos masuk dalam 12 media yang dinilai oleh Yayasan Pena Kencana, mereka juga berbondong-bondong mengirim naskah. Saya iri melihat kegigihan mereka. Tidak dimuat dikirim lagi, dikirim lagi dan dikirim lagi. Bahkan persentase kiriman mereka dibanding kiriman penulis Riau, hampir sama, tetapi karena mereka sudah teruji di media-media lain di Jawa, secara kualitas, meski relatif, karyanya lebih kuat dan masuk dalam daftar layak muat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis-penulis Riau mestinya juga punya jiwa petarung seperti itu, dan tak hanya terpaku pada media lokal, yang bahkan cenderung menjadi (maaf) ‘generasi pengeluh’, yang ketika naskahnya tidak dimuat kemudian mengeluh, marah, menganggap redakturnya tak peduli dengan penulis daerahnya, dan sebagainya. Anak muda Riau harus bekerja keras, biar kalau ada orang bertanya siapa sastrawan Riau yang pantas diundang ke acara ini dan itu, jawabannya bukan hanya Fakhrunnas MA Jabbar, Marhalim Zaini, &lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;M Badri,&lt;/span&gt; Murparsaulian...(*)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-6309950381367148230?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/6309950381367148230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=6309950381367148230' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/6309950381367148230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/6309950381367148230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2009/11/generasi-pengeluh.html' title='Generasi Pengeluh'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-6002657667077136827</id><published>2008-01-22T19:46:00.000-08:00</published><updated>2008-01-22T19:51:03.941-08:00</updated><title type='text'>Esai Tamu</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size:16;"&gt;Beberapa Catatan Karya Sastra Pilihan Riau Pos 2007&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;    &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;oleh UU Hamidy&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;sumber: Riau Pos, Minggu, 20 Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Pada acara Anugerah Sagang 26 November 2007, Yayasan Sagang telah meluncurkan 4 karya sastra yaitu Kumpulan Sajak Pilihan Komposisi Sunyi yang merupakan pilihan 51 sajak karya 16 penyair, Keranda Jenazah Ayah pilihan 24 cerpen karya 24 pengarang, Krisis Sastra Riau dan Kumpulan Sajak Orgasmaya, karya Hasan Aspahani. Tiga karya yang pertama masing-masing dengan editor Hary B Kori’un. &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Sementara itu dalam tahun 2007 itu pihak UIR Press menerbitkan pula Malam Api,  yakni Kumpulan Cerpen M Badri,&lt;/span&gt; kemudian Antologi Puisi Selat Melaka, dan Membela Marwah Melayu Kumpulan Esai Musa Ismail.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Catatan ini masih merupakan pembicaraan yang sederhana. Dikatakan demikian, karena tidak semua karya dapat diulas. Sementara yang mendapat ulasan, juga belum memadai, karena terbatasnya waktu untuk membaca lebih teliti serta membuat perbandingan satu dengan yang lain. Catatan ini bertumpu pada tiga masalah, yakni judul, muatan isi dan bahasa. Ketiga masalah ini dipilih, karena ketiganya cukup menentukan untuk menarik minat khalayak membaca karya sastra, terutama para kritikus yang akan memberikan apresiasi maupun pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul suatu karya kreatif seperti sajak, cerpen dan novel, amat penting diperhatikan, karena judul itu bagaikan pintu pada rumah. Jika pintu itu indah dan menarik maka tamu (pembaca) akan ingin masuk (membaca) untuk melihat (mengetahui) apa yang ada dalam rumah (isi karangan) itu. Muatan isi karangan tentu saja penting, karena di sinilah konsepsi pengarang berupa ide, gagasan serta pesan-pesan dilarutkan atau disangkutkan oleh pengarang. Muatan isi tersusun ke dalam alur atau pola baris. Sebab itu keindahan isi di samping ditentukan oleh konsepsi pengarang, juga diperlihatkan oleh bentuk susunan karya, yang ditampilkan oleh pengarang. Sedangkan bahasa tentu juga penting, karena bahasa bagaikan bahan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;baku&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; oleh karya sastra. Sebab itu, pilihan kata, susunan kata (kalimat) serta ungkapan yang dipakai akan sangat menentukan terhadap keindahan karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam masalah judul, catatan ini membuat 4 kategori, yaitu indah, menarik, gelap (membingungkan) dan biasa. Judul dikategorikan indah apabila judul itu tertulis dalam rangkai kata yang bagus atau memakai metafor yang indah. Judul dikatakan menarik, apabila judul itu terkesan unik, jarang terdengar (dipakai) dalam belantara bahasa bahasa sehari-hari, sehingga terkesan pengarang memakai metafor yang relatif baru. Judul karangan juga bisa tampil gelap atau membingungkan. Ini terjadi, ketika pengarang memakai kata (rangkai kata) yang aneh, sehingga pembaca sulit memahami arti atau maknanya. Judul tidak memberi arah kepada konsepsi apa yang hendak disampaikan oleh pengarang. Lalu judul dikatakan biasa, ketika pengarang memakai kata-kata, ungkapan dan metafor, yang memang lazim terpakai dalam peristiwa bahasa, baik bahasa tulis maupun lisan. Dengan memakai 4 kategori itu, maka kumpulan puisi Komposisi Sunyi dapat tergambar sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Judul yang indah dan menarik: “Semua Sepi Padam Sendiri” karya Marhalim Zaini dan “adakah kau dengar desah kabut malam ini kasihku” karya Syaiful Bahri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Judul yang indah: “Hujan Bulan Desember” karya Hary B Kori’un,  “Bukit Uhud”  karya Husnu Abadi,  “Batu Hitam” karya Husnu Abadi, “Kelambu Rindu I” karya Jefry Al Malay, dan  “Angin Malam Mencatat Kenangan” karya Syaiful Bahri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Judul yang menarik: “Inisial Namamu Hadi di Koran” karya Dian Hartati,  “Melindap Sunyi” karya Dian Hartati,  “Prosa Senja” karya Dien Zhurindah,  “Taipun Kata-kata” karya Fakhrunnas MA Jabbar,  “Hati Tenggelam Bersama Jaring” karya Hang Kafrawi, “ Suara di Belakang Rumah” karya Jefry Al Malay,  “Kembali ke Langit” karya Mila Duchlun, dan “Meracau” karya Sobirin Zaini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Judul yang gelap: “Perjalanan Bulan Mati” karya Dian Hartati, “Bertanyakah Dia tentang Kepak Nun yang Aku Bakar?” karya Ellyzan Katan,  “Penerjemah Luka” karya Ellyzan Katan,  “Manila Extravaganza” karya Fakhrunnas MA Jabbar, “Menyulam 27 Mei 2006 di Bbenakku” karya Hang Kafrawi,  “Ordinat” karya Nina R Isna, dan  “Galau Menjelma Pisau” karya Sobirin Zaini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;e. Judul biasa: ada sebanyak 29 sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya kumpulan cerpen Keranda Jenazah Ayah dapat terurai sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Judul yang indah:  “Perempuan dengan Seribu Satu Tikaman Pisau di Tubuh, Juga Hatinya” oleh Aliela, “Getah Damar” oleh Ellyzan Katan, &lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt; “Lagu Purnama Sungai Duku” oleh M Badri,&lt;/span&gt; dan “Mumbang” oleh Saidul Tombang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Judul yang menarik:  “Pisau dalam Diri” oleh Fadlillah Malin Sutan Kayo, - “Rumah di Seberang Kuburan” oleh Labibah Zain,  “Kisah di Tengah Ilalang” oleh Murpasaulian,  “Fitnah Ular” oleh Mhd Amin MS,  “Kurap” oleh Nyoto, “Laut Ini Pernah Marah” oleh Syaifuddin Abdullah, dan  “Bus Misterius”, karangan Syafrizal Sutan Malano&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Judul yang gelap:  “Rumahku untuk Pulang” oleh Pandapotan MT Siallagan, dan “Lantai Hotel untuk Menangis” karangan Ragdi F Daye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan empat kategori itu kita mendapat panduan memberi penilaian. Komposisi Sunyi dengan 51 sajak, mempunyai judul yang bagus lebih kurang 15 sajak, yakni meliputi kategori indah dan menarik. Selebihnya 29 judul kategori biasa dan 8 judul gelap, relatif kurang bagus. Jadi hanya kira-kira sepertiga kumpulan sajak itu yang punya judul bagus. Sedangkan Keranda Jenazah Ayah, dengan 24 cerpen, mempunyai judul bagus 11 judul. Selebihnya judul yang kurang bagus relatif 13 judul. Jadi hampir separuh judul kumpulan cerpen itu tergolong bagus. Dari uraian yang sederhana itu dapat dikesan, bahwa penulis cerpen relatif lebih berhasil daripada penulis sajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya judul itu bukanlah harga mati dalam arti tak dapat diganggu gugat, digeser atau diganti. Memang hampir tak mungkin seorang pengarang berangkat tanpa judul dalam proses menulis karangannya. Namun, ketika karangan sudah selesai ditulis, kemudian dibaca ulang oleh pengarang, bisa timbul pikiran untuk mempertajam bahkan memperindah judul yang sudah ada. Perhatikanlah misalnya, judul cerpen Aliela “Perempuan dengan Seribu Satu Tikaman Pisau di Tubuh, juga Hatinya”. Judul ini terlalu panjang, sehingga berkurang keindahannya. Keindahannya menjadi lebih cemerlang kalau digeser menjadi “Perempuan dengan Seribu Satu Tikaman Pisau”. Kata “di tubuhnya, juga hatinya” tak perlu lagi, sebab hal itu akan digambarkan oleh isi karangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersabit dengan itu judul yang terkesan gelap, juga bisa digeser menjadi judul yang lebih bagus. Perhatikan judul cerpen “Rumahku untuk Pulang” dan “Lantai Hotel untuk Menangis”. Kedua judul itu menjadi redup karena kata untuk. Jika kata itu dibuat, maka judul “Rumah Pulang” dan “Lantai Hotel Menangis” berubah menjadi metafor. Meskipun kedengarannya agak aneh, tetapi sebagai metafor dapat diterima. Coba perhatikan beberapa judul; Selimut Bertuah, Pertemuan Tak Terduga, Burung Tiung Sri Gading, Bulang Cahaya dan Tempuling. Tidakkah judulnya sudah menarik, sehingga pembaca tersentak untuk membacanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya juga ada catatan tentang muatan isi terhadap karya-karya terbitan 2007 itu. Muatan isi disajikan terkesan kurang pendalaman. Sebagian karya-karya itu mungkin terlalu didominasi oleh faktor inprovisasi yang segera dituliskan oleh pengarang. Hasilnya mungkin kurang dibaca ulang, apalagi direnungkan. Padahal kalau suatu karangan sudah ditulis, lalu dibaca lagi dengan sungguh-sungguh, niscaya terbuka peluang melakukan pendalaman. Sebaiknya karangan itu diendapkan beberapa hari baru dibaca ulang. Pendalaman isi karangan dapat dilakukan antara lain dengan merenungkan kenyataan hidup, memperhatikan peristiwa hidup yang sarat nilai serta melihat arti hidup dan mati yang semuanya dalam kekuasaan Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiap pengarang hendaklah merenungkan apa nilai karangannya terhadap khalayak. Karena itu, karyanya janganlah hanya ditampilkan sekadar untuk hiburan semata, sebatas memenuhi hawa nafsu yang rendah. Lebih dari itu, tiap karya seyogyanya juga mampu memandu khalayak kepada jalan yang benar, sehingga karya itu juga dapat dipandang sebagai cara membuat amal saleh. Hanya karya serupa itu yang bisa jauh gaungnya, serta punya kemampuan melampaui ruang dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, beberapa lambang dalam sajak, terkesan kurang dikembangkan dengan baik dalam baris dan bait sajak, sehingga kiasan pada tiap bait tidak indah atau tidak tajam. Metafor (lambang dan kiasan) hanya bagaikan bermain-main dalam sajak, tanpa jelas ke mana arahnya. Begitu pula pembentukan konflik dalam cerpen. Konplik yang dibuat kurang erat kembarannya, sehingga ketegangan (suspen) dalam cerita kurang menyentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek rasional dalam karangan jangan diabaikan oleh pengarang. Sebab, walaupun karya itu bersifat kreatif imajinatif, namun karangan yang tidak wajar (rasional) akan terasa mengganggu serta merusak nilai-nilai keindahan. Perhatikan, contoh kecil dalam cerpen “Keranda Jenazah Ayah”. Ini adalah judul biasa. Cerpen ini menarik dibaca, karena menggambarkan konflik antara rakyat kecil yang miskin dengan pengusaha yang serakah bekerja sama dengan kaki tangan pemerintah yang zalim serta didukung oleh orang bagak yang jahat. Kalau pengarang memahami lebih mendalam kearifan puak Melayu memelihara hutan tanah, niscaya konflik itu dapat lagi dibuat tajam sehingga lebih menarik. Sebab itu, judul ini agaknya akan lebih menarik jika diganti dengan “Tunggul Kayu”. Sebab di hadapan makhluk serakah itu, rakyat kecil hanya bagaikan tunggul kayu. Sebagai tunggul, rakyat kecil itu sedikit menghalangi hawa nafsu mereka. Tapi itu cuma sepele. Dengan teknik yang licik, rakyat kecil dengan mudah dilumpuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu,  aspek kewajaran bisa dikesan dari tokoh cerita. Dalam cerpen “Keranda Jenazah Ayah” dikatakan umur tokoh 12 tahun. Kalau demikian halnya, bagaimana tokoh ini mampu menyeret jenazah ayahnya sejauh 10 kilometer dalam tempo lebih kurang 6 jam. Tentu sedikit banyak tidak wajar. Supaya wajar, barangkali umur itu harus ditinjau lagi atau jarak menyeret lebih pendek. Kalau maksudnya untuk memberi efek tragis, tentu peristiwa ini harus ditata lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai aspek kewajaran isi ini masih bisa kita lihat contoh kecil lagi dalam sajak “Dongeng Negeri Empat Musim” karya Hasan Aspahani; //Ada empat musim di negeri itu/pertama, musim berdusta,/kedua musim berjanji,/ketiga musim berpura-pura,/keempat musim lupa.//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sajak punya judul tentang musim, maka musim mempunyai urutan. Meskipun sajak ini tidak bicara tentang musim alam, tapi musim berdusta mendahului musim berjanji, tentu tak mungkin, walau dalam konteks ambiguitas sekalipun. Tak mungkin berdusta dulu, baru berjanji. Sebab dusta timbul dari janji. Sajak ini dapat agaknya menjadi lebih bagus, jika masing-masing musim itu digambarkan dalam bait berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir sejalan dengan itu juga berlaku pada sajak “Orgasmaya”. Pada tingkat orang awam, judul puisi ini mungkin gelap atau membingungkan. Sebab tak terjangkau oleh perbendaharaan kata-kata mereka. Pembaca mungkin membayangkan sebagai perkawinan di dunia maya atau cinta erotis di alam imajiner. Tetapi pembaca bisa jadi heran, sebab sajak itu bukan menggambarkan bayangan dunia maya, melainkan dunia nyata yang terkesan vulgar. //”Surga itu mungkin trampolin!”/”Dan kita tak bisa membedakan lagi/tubuhkukah di atas tubuhmu/atau tubuhmu di dalam tubuhku/ketika mereka-reka adegan sempurna:/persetubuhan terindah di dunia”//&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali pengarang hendak membayangkan perkawinan erotis Adam dan Hawa, yang melahirkan anak-pinak umat manusia, seperti terbayang dalam bait berikutnya. Jika ini ambiguitas puisi itu, metafor yang dipakai tak memadai. Dunia Adam dan Hawa tak dapat dibayangkan sebanding dengan perkawinan primitif manusia purba. Sebab Adam adalah nabi, bukan manusia biasa semata-mata. Membayangkan Adam dan Hawa pada tingkat imajinasi, salah-salah bisa tergelincir menjadi penghinaan terhadap nabi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang dunia maya, yang dapat dibuat-buat sesuka hati (seperti misalnya dilihat melalui layar) maka cinta birahi di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, tentu banyak keanehan, karena tidak seperti terjadi di dunia nyata. Di &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; bisa dikatakan manusia kawin dengan makhluk lain, nikmat hubungan intim tidak perlu melalui alat kelamin tapi entah dengan apa, yang tak ada di dunia nyata. Itu baru “surga trampolin” (surga petualang). Tapi khalayak barangkali akan bertanya, apa maknanya membayangkan persetubuhan di dunia maya. Sungguhpun begitu, barangkali ada pengamat lain yang dapat mengungkapkan ambiguitas sajak ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang masalah bahasa, karya-karya terbitan 2007 itu juga pantas diberi catatan. Seperti telah diperlihatkan oleh empat kategori judul, maka beberapa metafor yang dipakai kurang memuaskan. Kekurangannya akan segera dikesan, setelah kita mencoba mencari (membayangkan) ke mana arah lambang dan kiasan sajak itu. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; beberapa metafor yang bagus seperti mumbang, angin malam, taipun kata-kata, hujan bulan desember dan batu hitam. Tetapi metafor ini sebagian belum “diolah” dengan tangan yang lasak dan hati yang gelisah. Akibatnya tampil kurang cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi dalam mencari lambang dan kiasan (metafor) ini para pengarang sudah cukup kreatif. Lambang-lambang sudah menarik pembaca. Kalau metafor ini ditarah dan diketam lagi dengan kehalusan bahasa, niscaya karya-karya itu akan tampil lebih cemerlang. Sebagai bandingan, perhatikanlah betapa indahnya lambang bunga untuk perempuan dalam puisi tradisional. Bunga punya penampilan indah, merekah, harum, bahkan juga layu. Ini semuanya sebanding dengan penampilan perempuan, terutama anak gadis. Perhatikan juga lambang perahu oleh Hamzah Fansuri, dunia oleh Raja Ali Haji, dan angan-angan oleh Tuan Guru Abdurrahman Siddik. Sementara pengarang Melayu yang baru misalnya, memakai lambang pucuk mali-mali (Ibrahim Sattah), kapak (Sutardji Calzoum Bachri), banjir (Idrus Tintin), Burung Tiung Sri Gading (Hasan Junus), elang (Ediruslan Pe Amanriza), Bulang Cahaya dan Tempuling (Rida K Liamsi), ceri (Fakhrunnas MA Jabbar), pipa darah (Abel Tasman), Sri Batam (Samson Rambah Pasir), dan getah bunga rimba (Marhalim Zaini).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapatkan metafor yang bagus tentu saja memerlukan berbagai cara dan jalan. Membaca karya-karya yang bagus (indah) bahasanya seperti karya Hamzah Fansuri, Raja Ali Haji, Soeman Hs, Hamka, Hasan Junus, BM Syamsuddin, Tenas Effendy dan sebagainya. Di samping itu memperhatikan alam semula jadi, peristiwa alam dan peristiwa kehidupan serta dirangkai dengan sirih pinang puak Melayu, niscaya akan terbuka peluang mendapatkan metafor yang relatif baru. Hindari memakai bahasa pasar (kecuali jika konteks memaksa) sebab bahasa pasar kalau tidak hati-hati memakainya, dapat merendahkan mutu bahasa yang sudah terpelihara. Bagaikan pelukis memakai cat kualitas rendah untuk lukisannya. Walaupun komposisi lukisan sudah harmonis, namun tidak mampu memancarkan keindahan yang diharapkan, karena kualitas cat yang dipakai tidak bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengarang harus sadar, setelah karyanya diterbitkan, Karyanya itu tidak lagi sebatas diri pengarang, tetapi sudah berbicara terhadap khalayak (pembaca). Maka, kalau karya itu tak dapat dinikmati dan dipahami oleh khalayak, sungguh suatu pemakaian tenaga yang sia-sia. Lebih daripada itu, karangan atau karya itu seyogyanya mendorong pembacanya agar punya martabat, bukan menggiring mereka kepada budaya egois, hedonis, materialistik bahkan munafik. Sebab, berdiri di atas budaya materialistik-munafik, bagaikan berdiri di atas lumpur. Makin banyak berbuat (berkarya) makin jauh terpuruk ke dalam lembah kehinaan.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;UU Hamidy, adalah kritikus sastra dan dosen sastra senior. Bermastautin di Pekanbaru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-6002657667077136827?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/6002657667077136827/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=6002657667077136827' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/6002657667077136827'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/6002657667077136827'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2008/01/esai-tamu.html' title='Esai Tamu'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-6952778872194247956</id><published>2007-11-06T02:21:00.000-08:00</published><updated>2007-11-06T02:23:21.230-08:00</updated><title type='text'>"Malam Api": Gambaran Kegelapan Riau yang Tertekan</title><content type='html'>&lt;div  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sumber : &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Riau Pos 04 Nopember 2007&lt;/span&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia; color: rgb(0, 0, 153);" class="MsoNormal"&gt;Oleh: &lt;strong&gt;Musa Ismail&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify; font-family: georgia;" class="MsoNormal"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memang benar bahwa karya sastra dibidani dari rahim sastrawan yang penuh dengan ide-ide dan pernak-pernik kejeniusan lokal (etnik genius). Tidak heranlah jika karya sastra yang terlahir dapat dikatakan sebagai cerminan (emanas) dari kehidupan sosial masyarakat yang membesarkan dan membentuknya sebagai manusia. Buah yang jatuh tidak akan jauh dari pohonnya atau air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga. Begitulah peribahasa yang bisa disandingkan dengan realitas antara sastrawan, karyanya, dan kehidupan sosialnya. Mengangkat latar, tema, penokohan, dan pemakaian bahasa yang berorientasi pada lingkungannya itulah yang kita sebut sebagai salah satu kejeniusan lokal. Kejeniusan lokal inilah pula nantinya akan mewarnai karya sastra-karya sastra yang lahir secara normal itu. &lt;/p&gt;&lt;div  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;  &lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; Wilayah Riau sebagai provinsi yang awalnya dihuni orang-orang Melayu, kini sudah semakin majemuk. Kemajemukan ini jugalah yang menjadi berkah—selain kekayaan alam yang melimpah—bagi panorama kekayaan kejeniusan lokalnya. Di samping itu, tradisi-tradisi yang menggeliat di sini pun sudah kian bersebati. Tradisi-tradisi positif itu mencakup tradisi lisan, tulisan, dan juga tradisi yang mencakup berbagai persoalan kehidupan.Tidak jarang kekayaan semacam itu menyelusup bebas tanpa pasungan ke ruang-ruang kreativitas para sastrawannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; Sastrawan akan dipengaruhi oleh lingkungan kehidupan masyarakatnya. Berbagai persoalan dan peristiwa yang terjadi di dalam masyarakat tidak akan pernah bebas begitu saja dari bidikan kreatif sastrawan. Karya sastranya seperti cerpen pun demikian. Mustahil rasanya kalau sastrawan bebas lepas dari budaya, ideologi, tradisi, atau kebiasaan-kebiasaan yang hidup dan turut membelanya. Dalam karya sastra, berbagai persoalan pertentangan akan muncul, baik sengaja maupun tidak. Persoalan kebenaran-ketidakbenaran, keadilan-ketidakadilan, kemiskinan-kekayaan, cinta-seteru, lingkungan, budaya, alam, air mata, dan sebagainya selalu muncul dalam karya sastra sejak pengkhianatan iblis di surga. Julia Kristeva, seorang ahli semiotik dan psikoanalisa Perancis mengatakan bahwa sastra menguak kebenaran mengenai alam semesta yang tertekan, kegelapan malam, rahasia, dan alam tidak sadar (repressed, nocturnal, secret, and unconscious universe). &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;                       ***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; Ketika peluncuran tiga buku (kumpulan cerpen Malam Api karya M. Badri, kumpulan puisi Riau-Johor Selat Melaka, dan kumpulan esai Membela Marwah Melayu karya Musa Ismail) yang diterbitkan UIR Press dan BKKI (Badan Kerjasama Kesenian Indonesia) pada 22 September 2007 lalu, saya berharap bisa bertemu-kenal dengan M Badri, penulis muda Malam Api. Namun sayang, harapan saya pengap karena hanya berhadap dengan ketidakhadiran beliau sebab suatu dan lain hal. Setelah melahap dengan rakus semua isi Malam Api (sebanyak 17 cerpen), rasanya saya kenal dekat dengan sastrawan muda berbakat Riau kelahiran Blitar ini meskipun belum pernah bertatap wajah. M Badri melalui Malam Api yang telah dilahirkannya —bagi saya—bagaikan seorang pengisah yang selalu haus dengan kejeniusan lokal (Riau) yang sekarang menjadi tempat dia dibesarkan dan ditempa sebagai manusia yang menjunjung budaya tempatan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; Meskipun kelahiran Blitar, tetapi dia ditempa dalam keberagaman lingkungan kehidupan masyarakat Riau. Karena itu, tidak heran kalau kesan pertama ketika membaca Malam Api, kita akan terbuai dengan latar belakang kehidupan sosial di mana dia pernah dibesarkan dan dibentuk. Tema, latar (setting), perwatakan,  dan amanat yang diketengahkan M Badri dalam kumpulan cerpen ini merupakan suatu persebatian jiwa dan kehidupan yang pernah dan mungkin terjadi di dalam masyarakatnya. Sebagian besar tema yang disajikan M Badri dalam kumpulan cerpen yang diberi pengantar oleh Hary B Kori’un ini menyangkut tentang kehidupan sosial Melayu (Riau) yang berlaku secara universal. Cerpen Malam Api, umpamanya, meskipun Hary mengatakan sebagai cerpen yang mengisahkan kapitalisme, tetapi juga menyorot tentang rasa kepemilikan daerah. Rasa memiliki daerah ini bisa muncul dari arogansi berbagai pihak yang melakukan penjarahan dan penjajahan terhadap suatu daerah. Tema-tema lain yang terangkum dalam kumpulan cerpen ini di antaranya pelacuran, percintaan, gender, kasih sayang, bencana alam, nasib para TKI/TKW, kehidupan suku terasing, dan sebagainya yang dilukis pada ’’kanvas kata-kata’’ melalui kejeniusan lokal yang sungguh menarik. Kejeniusan lokal yang tercantum pada tema tersebut menyatu dalam unsur-unsur intrinsik seperti setting, perwatakan, dan amanat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; Sebagian besar persoalan-persoalan yang diangkat dalam Malam Api merupakan sikap kritis, baik M Badri sebagai penulis maupun sebagai masyarakat. Ketidakpuasan terhadap apa yang menimpa negeri kaya dengan kemiskinan yang begitu mengusik jiwa. Pergulatan-pergulatan konflik dibancuh sedemikian rupa sehingga perseteruan yang muncul lebih bersifat tragedi. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; beberapa sikap kritis yang tergambar dari cerpen-cerpen yang terkumpul dalam ontologi ini. Pertama, masih banyak kehidupan masyarakat yang marjinal di Riau. Keterasingan ini bukan hanya terhadap suku-suku yang benar-benar terasing seperti Petalangan, &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Sakai&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, Akit, dan sebagainya itu, tetapi juga terhadap pembangunannya (baca cerpen “Malam Api” dan “Siapa Menghancurkan Kampung Kita, Abah?”). Kedua, mengajak masyarakat agar mempunyai semangat untuk membangkitkan marwah. Hal ini tergambar dalam cerpen “Malam Api” halaman 8:’’Kami hanya menjaga marwah, untuk tetap lahir, hidup, beranak-pinak dan mati di kampung ini....’’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; Ketiga, mengkritisi kebejatan manusia yang senantiasa berbuat maksiat. Cerpen “Loktong” dijalin M Badri dengan rangkaian kata yang penuh kiasan sehingga kesan-kesan pornografi tidak akan kita tangkap di dalamnya.  Dapat dikatakan bahwa pemilihan kata (diksi) dalam cerpen ini begitu metaforis sehingga ketabuan seolah-olah tak dapat  kita tangkap. Keempat, ide mengangkat martabat perempuan, hakikat gender, dan kejujuran. ’’Aku tidak akan menyerah! Setiap pagi aku membantu bunda membuat kue dan menjualnya ke kedai-kedai. Lalu malamnya bunda mengajariku membaca, berhitung, mengaji, sampai memaknai kejujuran. Hidup harus jujur, kata bunda. Sebagai perempuan kami tidak boleh kalah dari lelaki. Tetapi juga tidak boleh melupakan kodrat sebagai bagian dari tulang rusuk lelaki. Selagi masih mempunyai tenaga dan harga diri, kami tidak boleh mengemis atau mencuri....’’ (cerpen “Perempuan Memeluk Rembulan”, halaman 87).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; Kelima, melalui cerpen “Kepada Kembang dan Batu Karang”, “Lelaki Batu Bersampan Kayu dan Negeri yang Ditinggalkan”, M Badri mengajak kita untuk memiliki ilmu, pengetahuan, wawasan, menguasainya, dan mengubah pola pikir sebagai generasi masa depan. Penulis kumpulan cerpen ini —entah sengaja atau tidak —seide dengan Marhalim Zaini dalam cerpen “Belajar Bercinta dengan Laut”. Ide mereka bahwa laut merupakan perlambangan dari keluasan berbagai pengetahuan yang bisa memberikan dan mengajari kita banyak hal. Dalam cerpen ini juga, dilukiskan tentang keoptimisan, dagi, semangat, pejuang, dan penakluk kehidupan. Keenam, kritikan tentang kerusakan lingkungan seperti hutan dan sungai yang mengakibatkan berbagai bencana (baca “Perahu Kertas” dan “Dia Selalu Menangis SetiapMelihat Matahari Muncul dari Balik Kabut Asap”). Ketujuh, mengajak kita agar menumpaskan kekuasaan (penguasa-penguasa) yang lalim, sewenang-wenang. Dalam cerpen “Lelaki Batu Bersampan Kayu dan Negeri yang Ditinggalkan”, kekuasaan sewenang-wenang itu disimboliskan dengan Fir’aun. ’’Lalu tumbuh sebagai lelaki batu yang meruntuhkan tembok kejayaan Fir’aun. Maka ketika Fir’aun bermunculan di negeriku, aku tidak bisa menenggelamkannya di sungai....’’ (halaman 92). Persoalan ini pun terlihat dalam cerpen “Sidang Para Penyamun”. Kedelapan, ide-ide persuasif terhadap masyarakat miskin agar terus berjuang memerangi kebodohan melalui pendidikan. Cerpen “Bulan Merah di Atas Pelabuhan” merupakan kisahan ironis terhadap para pembuat kebijakan di atas kekayaan bumi Riau, yaitu proses pembodohan hingga kini masih saja terus terjadi di atas pipa-pipa minyak raksasa yang menjalar itu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; Jika dikaji lebih lanjut, tema-tema dalam Malam Api ini menyangkut tema jasmaniah (physical), tema moral (organic), tema sosial (social), tema egoik (egoic), dan tema ketuhanan (divine). Cerpen-cerpennya yang terangkum dalam tema-tema tersebut dibungkus indah dalam tatanan kisah Riau yang mengerikan, kelam, dan tertekan. Dalam kisah-kisah yang dijalinnya, jelas sekali menggambarkan kegelapan dan ketertekanan Riau sebagai salah satu negeri yang dikaruniai kekayaan alam yang melimpah. Kegelapan dan ketertekanan alam Riau yang dikemas juga menggambarkan sikap ketidakpuasan/kritis social yang mendalam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; Cerpen-cerpen yang hadir di buku ini membentuk suasana atau atmosfer cerita yang mengesankan. Dengan &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;gaya&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; pengungkapan yang khas sebagai penyair, judul-judul yang ditampilkannya bukan hanya sebagai judul, tetapi juga penuh dengan simbolisasi. Dengan demikian, M Badri telah menciptakan atmosfer tersendiri pula terhadap cerpen-cerpennya. M Badri bagaikan Marhalim Zaini (bukan bermaksud memperbandingkan). Kata-kata puitis itu ternyata merasuk dan mengalir deras ke dalam arus cerpen-cerpennya. &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Ada&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; beberapa diksi khusus yang menggambarkan keprihatinan tentang dunia Melayu (Riau) di sini, yaitu malam, merah saga, dan senja yang masuk hampir ke seluruh cerpen yang terdapat dalam ontologi ini. Apakah ini suatu gambaran yang kritis? Wallahu alam! Namun yang tak kalah penting, penempatan-penempatan asonansi dan aliterasi begitu mengena sehingga melahirkan bunyi-bunyian dan irama atau melodi seperti dalam puisi-puisi yang ditulisnya. Secara menyeluruh, saya berkesimpulan bahwa Malam Api merupakan salah satu kumpulan cerpen yang penuh konflik, tragis, dan mengejutkan. Selain metaforis, juga menghadirkan berbagai perlambangan, terutama melalui pemakaian majas perumpamaan (simile). Meskipun berbahasa puitis, tetapi tidak mengganggu pemahaman ketika kita membacanya. Justru sebaliknya, bahasa-bahasanya mempercantik dan mengenakkan lidah otak kita. Semoga M Badri masih terus menjadi ’’Emak’’ bagi karya-karya kreatifnya.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:12;"&gt;&lt;i&gt; &lt;em&gt; Musa Ismail adalah Guru SMAN 3 Bengkalis, menulis cerpen, novel, puisi, dan esai. Ingin terus berupaya mengulas karya-karya penulis Riau. Bermukim di Bengkalis.&lt;/em&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-6952778872194247956?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/6952778872194247956/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=6952778872194247956' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/6952778872194247956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/6952778872194247956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2007/11/malam-api-gambaran-kegelapan-riau-yang.html' title='&quot;Malam Api&quot;: Gambaran Kegelapan Riau yang Tertekan'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-246745775052272852</id><published>2007-10-31T05:54:00.000-07:00</published><updated>2007-10-31T05:56:30.693-07:00</updated><title type='text'>Pemenang Raja Ali Haji Award</title><content type='html'>Sumber: milis Apsas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman pemenang Kontes Menulis Puisi Raja Ali Haji&lt;br /&gt;Award Dewan Kesenian Provinsi Kepri 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Juara 1 - Ayat-ayat Penyengat - M. Badri/Bogor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Juara 2 - Syair Gurindam: Sebuah Epilog - Eva&lt;br /&gt;Amalia/Tanjungpinan g&lt;br /&gt;Juara 3 - Kugali Terus Sumur Gurindam - A Rahim&lt;br /&gt;Qahhar/Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Juara Harapan:&lt;br /&gt;1. Wasilah Dua Belas - Suhendri/Rengat&lt;br /&gt;2. Ibu Memasak Gurindam - Bandung Mawardi/Karanganyar&lt;br /&gt;3. Wahai Cinta Inilah Nyeri Merindu Wajahmu - Nanang&lt;br /&gt;Suryadi/Malang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara 1, 2, 3 diundang untuk menerima langsung hadiah&lt;br /&gt;dan membacakan karya di Tanjungpinang bersempena&lt;br /&gt;dengan Bintan Arts Festival (BAF) IX 2-3 November&lt;br /&gt;2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanjungpinang, 31 Oktober 2007&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasan Aspahani&lt;br /&gt;Seksi Lomba&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-246745775052272852?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/246745775052272852/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=246745775052272852' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/246745775052272852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/246745775052272852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2007/10/pemenang-raja-ali-haji-award.html' title='Pemenang Raja Ali Haji Award'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-5603505995136900380</id><published>2007-10-01T00:47:00.000-07:00</published><updated>2007-10-01T00:59:39.055-07:00</updated><title type='text'>Cerpen Terbaik Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span class="small"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sumber: www.escaeva.com&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Kamis, 20 September 2007&lt;/p&gt;    &lt;p&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini adalah nama cerpenis yang layak mendapatkan predikat 3 TERBAIK di Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen Escaeva - Bukukita(dot)com, yaitu Jawara 1, 2 dan 3.&lt;/p&gt;  &lt;p style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;strong&gt;Jawara 1:&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berhak mendapatkan hadiah utama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tembang Bukit Kapur - M Badri&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jawara 2: &lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berhak mendapatkan hadiah kedua&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;strong&gt;Taman&lt;/strong&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;strong&gt; Kanak-Kanak - Setiyo Bardono&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Jawara 3:&lt;/strong&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Berhak mendapatkan hadiah ketiga &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Boneka Gajah yang Bisa Bertelur - Rama Safra'I Rachmat&lt;/strong&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p&gt;Dengan demikian telah ditentukan 14 cerpen terbaik Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen Escaeva - Bukukita(dot)com beserta para pemenang 1, 2 dan ke 3. Cerpenis terbaik selanjutnya akan dihubungi oleh Penerbit Escaeva untuk dimintai no rekening (bila belum ada), revisi cerpen (jika perlu) dan permintaan pengiriman bio data terbaru.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;Hadiah uang akan ditransfer pada saat terbitnya buku kumpulan cerpen ini. Jika tiada aral melintang diharapkan buku ini akan terbit bulan November atau Desember 2007.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Setelah melalui proses penyaringan lagi, akhirnya dipilih 14 cerpen terbaik di Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen Escaeva - Bukukita(dot)com. Seluruh cerpen ini akan dibukukan bersama 6 cerpen terbaik Ajang Kreasi tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah mereka, 14 cerpen terbaik (diurutkan berdasar nomor masuk)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10    Menunggu Kabar - M Raudah Jambak&lt;br /&gt;19    Taman Kanak Kanak - Setiyo Bardono&lt;br /&gt;31    Panggil Aku Joe - Nursalam AR&lt;br /&gt;175    Aku Seorang Junkie Kasih Sayang - Bunga Mega&lt;br /&gt;235    Megatruh - Titon Rahmawan&lt;br /&gt;446    Kota Seribu Pohon - Harry Wahyudhy Utama&lt;br /&gt;472    Rumah-Rumah yang Bersetubuh - Iggoyel Fitra&lt;br /&gt;613    Boneka Gajah Yang Bisa Bertelur - Rama Safra'I Rachmat&lt;br /&gt;654    Yang Tak Pernah Tertidur - Ary Wibowo&lt;br /&gt;721    Kota Lalu Ibu - Pinto Anugrah&lt;br /&gt;800    Kali Bakar - Azizah Hefni&lt;br /&gt;1003    Membunuh Ayah - Alimuddin&lt;br /&gt;1039    Sisi Lain - Hasyim Ashari&lt;br /&gt;1097    Tembang Bukit Kapur - M Badri&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-5603505995136900380?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/5603505995136900380/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=5603505995136900380' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/5603505995136900380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/5603505995136900380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2007/10/cerpen-terbaik-ajang-kreasi-kumpulan.html' title='Cerpen Terbaik Ajang Kreasi Kumpulan Cerpen'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-1371200627331757789</id><published>2007-10-01T00:30:00.000-07:00</published><updated>2007-10-01T00:46:24.976-07:00</updated><title type='text'>Pemenang Lomba Cerpen HUT PARLE</title><content type='html'>&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sumber: www.tabloidparle.com&lt;/span&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span class="small"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;Tema Lingkungan Hidup&lt;br /&gt;Juara 1 : tidak ada&lt;br /&gt;Juara 2 : Dina Octaviana, &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;, dengan cerpen ”Anak Gurun”&lt;br /&gt;Juara 3 : Retnadi Nur’aini, &lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;, dengan cerpen ”Seorang Perempuan yang&lt;br /&gt;Jatuh Cinta pada Hujan”&lt;br /&gt;Juara Harapan : 1. Titik Kartitiani, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, dengan cerpen ”Capra”&lt;br /&gt;2. Denny Prabowo, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, dengan cerpen ”Terompet Tanduk Kerbau”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang Pengarang Berbakat:&lt;br /&gt;1. Hendri Teja, Depok, dengan cerpen ”Ketika Abang Pulang”&lt;br /&gt;2. Rina Nazrina, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, dengan cerpen ”Promotheus Makan Hati”&lt;br /&gt;3. Ni Komang Ariani, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, dengan cerpen ”Ke Mana Iyah Sewaktu Banjir”&lt;br /&gt;4. Titon Rahmawan, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;, dengan cerpen ”Ketika Semua Orang Telah Pergi”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt; 5. M. Badri, &lt;/span&gt;&lt;st1:city style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);" st="on"&gt;Bogor&lt;/st1:City&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;, dengan cerpen ”Sebatang Ranji di Tepi Sungai”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema Cinta Tanah Air, tidak ada pemenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria penilaian:&lt;br /&gt;- Sesuai dengan tema&lt;br /&gt;- Kemampuan berbahasa&lt;br /&gt;- &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Gaya&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt; dan teknik penulisan&lt;br /&gt;- Orisinalitas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan Juri:&lt;br /&gt;1. Yusi Avianto Pareanom (esais, editor penerbitan)&lt;br /&gt;2. AS Laksana (cerpenis dan istruktur penulisan kreatif)&lt;br /&gt;3. Kurnia Effendi (cerpenis dan penulis kolom)&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-1371200627331757789?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/1371200627331757789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=1371200627331757789' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/1371200627331757789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/1371200627331757789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2007/10/pemenang-lomba-cerpen-hut-parle.html' title='Pemenang Lomba Cerpen HUT PARLE'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-108440473315419824</id><published>2007-09-16T22:16:00.000-07:00</published><updated>2007-09-25T22:44:57.012-07:00</updated><title type='text'>Tentang Kenangan, Realitas Sosial, Romantisme...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 0, 0);font-size:100%;" &gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sumber: Riau Pos, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt;16 September 2007&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh &lt;strong&gt;Hary B Kori'un&lt;/strong&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(0, 0, 153);"&gt;M Badri adalah lelaki yang penuh dengan kenangan. Itulah yang pertama kali muncul dalam pikiran saya ketika membaca cerpen-cerpennya. Di hampir semua cerpennya, dia selalu bercerita tentang kenangan, masa lalu, sejarah dan serpihan-serpihannya, yang kemudian dirangkainya menjadi sebuah plot, menjadi sebuah cerita pendek yang sebenarnya amat panjang karena menembus ruang dan waktu. Dia bisa berlama-lama dan berlembar-lembar halaman menulis tentang potongan masa lalu itu, yang bahkan bisa jadi di sepanjang cerita itu adalah sebuah kisah masa lalu yang disodorkan kepada kita. Tetapi, benarkah seseorang yang dinaungi rasi Pisces memang sangat pandai menyimpan dan mengenang masa lalu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membaca cerpen-cerpen Badri sudah sejak lama, barangkali ketika lelaki kelahiran Blitar ini mulai tumbuh dalam berkarya kreatif di awal tahun 2000-an. Bersama Pandapotan MT Siallagan dan Sobirin Zaini, ketika saya mulai mengasuh halaman budaya di Edisi Ahad Riau Pos, saya “didesak” untuk selalu membaca karya-karya ketiganya, baik berupa cerpen, puisi maupun esai. Tanpa mengecilkan arti para penulis lainnya yang juga berdesakan masuk ke meja kerja saya maupun di ruang e-mail, Badri, Siallagan dan Sobirin dengan tanpa lelah dan penuh semangat selalu menawarkan dan seolah ingin mengatakan bahwa saya harus membaca karya mereka dan “dipaksa” untuk memuatnya. Itulah akhirnya yang membuat saya tidak asing dengan cerpen-cerpen Badri yang ada dalam kumpulan cerpen ini, karena hampir separohnya pernah dimuat di Riau Pos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, apa yang saya pikirkan memang pada saatnya menjadi kenyataan, bahwa ketiga sastrawan muda yang penuh semangat itu bisa tumbuh dan berkembang jika mau selalu belajar dengan membaca karya-karya pengarang yang lebih baik. Mereka, ketiganya, kemudian memang benar-benar membuktikan diri karena hampir setiap tahun menjadi langganan pemenang pada Laman Cipta Sastra yang diadakan oleh Dewan Kesenian Riau (DKR). Bahkan, ketika kemudian menyeberangi lautan dan tinggal di Bogor untuk meneruskan studi S2-nya di Institut Pertanian Bogor (IPB), Badri mampu membuktikan apa yang saya pikirkan sebelumnya ketika berhasil menjadi juara pertama lomba cipta cerpen yang diadakan oleh Direktorat Pemuda Kantor Menpora bekerjasama dengan Creative Writing Institute (CWI) tahun 2006. Cerpen “Loktong” yang juga ada dalam kumpulan ini, berhasil menyisihkan ratusan cerpen lainnya dari seluruh Indonesia. Sebuah langkah yang saya kira amat baik dari seorang Badri dengan berhasil menjelaskan kepada kita bahwa karya-karyanya ternyata mampu menggiring juri —yang bukan orang Riau—untuk menabalkannya menjadi salah seorang cerpenis yang harus diperhitungkan suatu saat nanti. Dengan satu catatan: Badri harus lebih rajin lagi menulis dan memperkenalkannya kepada masyarakat lewat media apapun. Kumpulan ini adalah satu retasan jalan untuk ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak akan mengupas satu-persatu cerpen-cerpen yang ada dalam kumpulan ini. Tetapi mungkin, sekali lagi, yang ingin saya jelaskan adalah bahwa membaca cerpen-cerpen dalam kumpulan ini, kita akan menemukan kalimat-kalimat yang puitik, melankolis, dan mengalir seperti air dengan segala kelokan dari hulu ke muara. Meski begitu, Badri tetap memiliki intuisi bahwa karya sastra hanya akan menjadi hasil kerajinan belaka jika tidak diberi roh. Roh karya adalah kenyataan sosiologi-antropologi yang didapat dari persoalan sehari-hari manusia dengan segala problematiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak sependapat dengan Nirwan Dewanto yang mengatakan bahwa karya sastra hanyalah sebuah karya kerajinan yang ditulis oleh seorang pengrajin yang hanya memutar-balik bentuk dan tidak pada isi dan pencapaian estetikanya yang lebih baik. Menurut saya, karya sastra yang baik bukanlah sebuah karya yang lahir dari egoisme penulisnya dengan dunianya sendiri, tetapi sebuah karya yang lahir sebagai cerminan masyarakatnya. Meskipun banyak orang yang menolak ketika karya sastra banyak memuat persoalan dan akan sama dengan teks jurnalistik, namun menurut saya, ketika karya sastra tak memberi roh dan isi apa-apa, ia-nya akan sama dengan seseorang yang memilih melajang seumur hidupnya dan menikmati orgasme seksual dengan cara masturbasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen-cerpen dan karya sastra besar dunia lahir dan menjadi cerminan problematika masyarakat. Anton Chekov memotret persoalan sosial masyarakat Rusia yang berada dalam tirani berkepanjangan. Begitu juga dengan karya-karya Leo Tolstoy, Nikolai Gogol, Fyodor M Dostoyevsky, Maxim Gorsky dan sekian sastrawan Rusia lainnya yang “menyerahkan” karyanya kepada masyarakat, karena karya itu adalah cerminan sosiologi-antropologi-politik masyarakatnya. Begitu juga dengan karya-karya Jean-Paul Sartre, Kawabata Yasunari, Lu Xun, Frank Kafka, Milan Kundera, dan yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih sependapat dengan apa yang dikatakan oleh Seno Gumira Ajidarma, bahwa ketika jurnalisme dibungkam, maka sastra yang harus bicara. Seno tidak menampik jika karya sastra menjadi mediator antara masyarakat pembaca dengan masyarakat fakta yang menjadi obyek dari persoalan seperti yang terjadi dalam dunia jurnalistik. Bahwa unsur politik, sosial, kultural dan sebagainya, sangat sah menjadi unsur dalam karya sastra. Namun, memperpanjang persoalan eksistensi tersebut, tidak akan selesai dalam tulisan ini karena masing-masingnya memiliki argumentasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problematika sosial yang dipotret Badri dalam cerpen-cerpennya sangat terlihat di tengah romantisme masa lalu yang dia tawarkan. Cerpen “Malam Api” misalnya, menceritakan tentang bagaimana kapitalisme yang tanpa batas mengamuk dan menghancurkan sistem nilai dan kultural masyarakat, yang akhirnya menimbulkan persoalan sosial. Orang-orang yang terusir dari kampungnya akibat kekerasan kapitalisme secara verbal maupun idelogi, yang tidak mampu melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam “Loktong”, Badri menyodorkan realitas sosial seorang gadis dusun kelahiran Nanking  yang terdampar di kota dan akhirnya harus menjadi pemuas nafsu karena himpitan ekonomi dan jebakan sindikat trafficking. Sebuah cerita yang cenderung klise memang, tapi Badri mampu meramunya menjadi sebuah plot yang liris dan tragis dengan aroma yang “lain”.&lt;br /&gt;Cerpen “Kenangan di Bawah Bulan” menceritakan tentang sepasang kekasih di masa lampau yang bertemu kembali di masa kini dengan realitas sosial yang sudah berbeda dari keduanya. Apa yang menarik dari kenangan? Barangkali hanya orang yang mengalami kenangan itulah yang bisa merasakannya. Persoalan tenaga kerja Indonesia di Malaysia, berusaha ditawarkan oleh Badri dalam cerpen “Hujan Menjelang Lebaran”. Berkisah tentang kerinduan Ning terhadap bundanya yang karena himpitan ekonomi memilih menyeberang ke Malaysia menjadi TKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cerita dari Utara” adalah bentuk empati Badri terhadap bencana tsunami yang melanda Nangroe Aceh Darussalam (NAD) Desember 2004. Tokoh Aku teringat pada kekasihnya, Alia, yang tinggal di Banda Aceh. Sepanjang cerpen ini kita disuguhi segala kenangan si Aku terhadap kekasihnya itu, dan surat-surat Alia yang menyentuh sebelum akhirnya gadis itu juga menjadi salah satu korban tsunami bersama ratusan ribu orang lainnya. Dalam “Dia Selalu Menangis Setiap Melihat Matahari Muncul dari Balik Kabut Asap”, Badri juga menulis tentang realitas di Riau ketika musim panas yang memunculkan bencana kabut asap. Badri menyarukannya pada cerita tentang seorang perempuan yang kehilangan kekasihnya ketika hutan-hutan terbakar di Riau, dan selalu menangis teringat kekasihnya (suami) ketika musim asap datang.&lt;br /&gt;Pada cerpen-cerpen lainnya, Badri tetap menebarkan persoalan realitas sosial yang dibungkus dengan aroma romantisme yang menebar di sana-sini. Namun, kadang-kadang, karena aroma romantisnya lebih kental dan menghabiskan berlembar-lembar halaman, membuat banyak persoalan sosial yang berusaha dimunculkan seperti angin lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, secara keseluruhan, membaca cerpen-cerpen Badri membuat kita seperti berada dalam sebuah kawasan yang teduh, berangin, tenang, tanpa suara, senyap dan melenakan, meski kita disodori banyak realitas sosial di sana-sini. Pada saatnya nanti, Badri bisa menjadi seorang penulis cerpen yang kuat, dan akan ikut berperan dalam khasanah dunia sastra Indonesia. Tidak percaya? Baca kata demi kata cerpen-cerpennya di halaman berikut ini...***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Hary B Kori’un, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255); font-style: italic;"&gt;Sastrawan, Redaktur Budaya Riau Pos.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-108440473315419824?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/108440473315419824/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=108440473315419824' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/108440473315419824'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/108440473315419824'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2007/09/tentang-kenangan-realitas-sosial.html' title='Tentang Kenangan, Realitas Sosial, Romantisme...'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-6837461306905407994</id><published>2007-09-16T22:12:00.000-07:00</published><updated>2007-09-16T22:26:36.641-07:00</updated><title type='text'>Nyastra dalam Komunitas, Mungkinkah?</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Sumber: Riau Pos, &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt;16 September 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Oleh Pandapotan MT Siallagan &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;/div&gt;&lt;p  style="text-align: justify;font-family:georgia;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;SAYA tak tahu bagaimana serpihan lembaran koran Bali Post bisa ‘terlantar’ di beram salah satu jalan di Kota Pematangsiantar. Tentu saja lembaran koran itu  saya pungut dan  saya baca. Kebetulan sekali, di lembaran koran edisi Ahad 5 Juni 2005 yang tak lagi utuh itu, ada tulisan berjudul “Nyastra, Merunut Kembali Arti Kata Sastra”, ditulis Sugilanus G Hartha. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;  &lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Dalam tulisan itu disebut, kata nyastra, dalam bahasa &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt; sungguh menarik. Kata nyaluk, misalnya, berasal dari kata saluk (pakai). Nyaluk baju, artinya memakai baju. Nyampat berasal dari kata sampat (sapu); nyampat artinya menyapu. Nyastra asal katanya sastra. Nyastra berarti menekuni sastra, yang cenderung punya makna tersirat ‘mengimani’ sastra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Awalnya saya tak yakin tulisan itu penting. Tapi ketika saya baca tulisan M Badri berjudul “Komunitas Sastra: Antara Mobilisasi Karya dan Mobilisasi Massa”, yang dimuat di Riau Pos tanggal  2 September 2007, di pikiran saya langsung muncul frasa: nyastra dalam komunitas, mungkinkah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Sebelum sampai pada apa yang dimaksud nyastra dalam konteks bahasa dan kebudayaan &lt;st1:place st="on"&gt;Bali&lt;/st1:place&gt; itu, marilah hayati dulu apa yang ditulis M Badri. Dia menulis, komunitas sastra merupakan sekumpulan orang yang tahu (atau ingin tahu) tentang sastra dengan melibatkan diri pada berbagai aktivitas sastra. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan oleh pegiat komunitas sastra, dari diskusi ringan sampai perdebatan sengit tentang kesusastraan. Kadang hanya sekadar menggosip tentang individu-individu sastrawan atau menjadi ajang “pengujian” karya sebelum dikirimkan ke media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, untuk mendapat pengakuan publik melalui perantara redaktur budaya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Fenomena pertumbuhan komunitas sastra memang menarik, bukan sekedar melihat perkembangan minat masya­rakat terhadap sastra, tapi juga penting menjawab seperti apa tren dan hendak dikemanakan sastra kita kontemporer. Tapi M Badri tampaknya terjebak sekedar mempersoalkan keberadaan komunitas sastra antara ajang pengumpulan orang sebanyak-banyaknya dan esensi berkomunitas: apakah ingin berproses kreatif, sekadar meramaikan, atau menebar kepentingan (tertentu). Taruhlah esensi berkomunitas itu dijalankan. Lantas bisakah itu menjamin lahirnya sebuah produk dan periode sastra yang betul-betul mampu mencapai keluhuran sebagaimana dia mestinya dilahirkan? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Tentu tidak, sebagaimana juga diyakini M Badri. Berkomunitas hanya salah satu cara memperluas khasanah wawasan. Berkomunitas adalah bentuk interaksi yang dilakukan sekelompok orang yang kebetulan berminat dan mungkin berkeinginan jadi penulis (belum tentu sastrawan). Lebih jauh meneruskan keterjebakannya, M Badri mempersoalkan bila sebuah komunitas sastra tak mampu menunjukkan karyanya, komunitas tersebut tak lebih dari mobilisasi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Apa pentingnya karya komunitas dan apa buruknya mobilisasi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Bukankah komunitas pada awal kelahirannya memang bertujuan mengenalkan sastra yang konon introvert kepada publik atau &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, selain juga meningkatkan martabat dan kualitas sastra? Lalu kenapa kita mencereweti apakah komunitas sastra produktif atau tidak? Kenapa kita gerah ketika komunitas sastra hanya berhasil memobilisasi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;? Kenapa kita kurang syur ketika komunitas sastra hadir untuk menebar kepentingan tertentu. Bukankah itu gambaran ketiadaan pemahaman apa esensi sastra? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Hemat saya, esensi sastra tidak penting dikait-hubungkan dengan diskusi ringan sampai perdebatan sengit tentang kesusastraan, gosip tentang individu-individu sastrawan atau menguji karya sebelum dikirim ke media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Sastra kurang pas dihubungkan dengan mobilisasi karya atau mobilisasi &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, apalagi komunitas dengan tetek-bengek pengurus dan donaturnya. Sastra juga tidak perlu dibebani dengan hadirnya orang-orang yang berkepentingan, komunitas sastra yang mengormas, pengkotak-kotakan, klaim moralis dan liberalis. Dan yang pasti, sastra tak berurusan dengan munculnya pertentangan yang mengarah pada permusuhan, pengakuan legalitas organisasi, perbedaan komunitas penulis dengan ormas, virus epigon dan lain-lain. Urusan-urusan pragmatis di atas sungguh naïf jika dibingkai menjadi persoalan sastra kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Sangat disayangkan memang kenapa diskursus sastra melebar menjadi tidak karuan bagitu, padahal tujuan kita sudah jelas: bagaimana memasyarakatkan sastra, melahirkan karya sastra sekaligus sastrawan bermutu. Pernahkah komunitas benar-benar digagas sebagai sebuah wadah kontemplasi dan bagi para ‘calon sastrawan’?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Hal-hal yang dikemukakan M Badri di atas adalah wacana yang diproduksi media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt; yang memaksa tren sastra kita menjadi latah pada kultur pop, sehingga sastra mulai dipaksa berurusan dengan popularitas. Alangkah sedih, sastra kita diukur dengan sering atau tidaknya hadir di media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;, muncul atau tidaknya karya-karya para sastrawan komunitas, juga menang atau tidaknya seseorang pada sayembara. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Maka benar-benar beruntung saya menemukan serpihan koran Bali Post itu terlebih di Kota Pematangsiantar yang sama sekali tak punya roh kesusasteraan. Simaklah Sugilanus G Hartha. Katanya, seseorang yang nyastra adalah orang yang melakukan kegiatan brata (puasa) Siwa Latri berdasarkan pada panduan karya sastra Siwa Latri Kalpa. Berbagai purana, yang juga salah satu bentuk sastra, juga menjadi pedoman keimanan banyak orang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Demikian juga itihasa (epos) Ramayana dan Mahabharata, nilai-nilainya menjadi pedoman hidup yang diurai ke dalam bentuk cerita.  Karya-karya sastra yang lahir dari seorang yang nyastra, dari sisi makna kata ‘asli’ lebih banyak bermuatan pencarian religius-filosofis yang mengarah pada pencarian manusia yang merindukan perjumpaannya dengan penciptanya. Atau lebih mengarah pada pembabaran sila (etika spiritual) yang membimbing manusia, pembaca dan pe­nulisnya, makin mendekatkan diri pada persoalan religiuisitas. Tapi kini “nyastraisme” sudah memudar, seiring dengan arti kata sastra yang kian meluas, menulis karya sastra sudah tidak relevan lagi disebut sebagai kegiatan ‘mencari Tuhan’. Barangkali sastra sekarang ini, lebih tepat  dilihat sebagai karya-karya yang memperjuangkan ideologi pengarangnya, ambisi pengarangnya, pengekspresian diri dan kegelisahan yang bebas, dibanding melihatnya sebagai jejak-jejak pencarian manusia dalam mencari Tuhan. Bukan lagi mengandung teks-teks suci, tetapi kadang sebaliknya, mempertanyakan atau bahkan melawan kesucian. Nah...!***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; Pandapotan MT Siallagan, sastrawan, tinggal &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style=";font-family:georgia;font-size:12;"  &gt; di Pematangsiantar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-6837461306905407994?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/6837461306905407994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=6837461306905407994' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/6837461306905407994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/6837461306905407994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2007/09/nyastra-dalam-komunitas-mungkinkah.html' title='Nyastra dalam Komunitas, Mungkinkah?'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-117065644614450312</id><published>2007-02-04T22:18:00.000-08:00</published><updated>2007-02-04T22:20:46.170-08:00</updated><title type='text'>”Jalan Pulang”: Sketsa Pelangi Sastra Riau Terkini</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Oleh Griven H Putra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                        &lt;div align="justify"&gt; KETIKA membaca buku Jalan Pulang (Kumpulan Cerpen dan Sajak Terpilih Riau Pos 2006), barulah saya sadar bahwa tak mudah memang membaca dan bertualang dari kisah ke kisah. Apalagi menyelaminya sampai ke dasar. Setiap kisah memiliki keunikannya sendiri-sendiri. Namun yang jelas, cerpen yang ada dalam buku ini merupakan titik pusaran waktu yang diciduk dari kebesaran semesta raya. Ia serupa remah-remah wama kehidupan yang dirangkai menjadi pelangi yang begitu indah, dan asyik untuk dibaca. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku ini, pertama yang saya jumpai adalah orang ikan pada cerpen “Pulang dalam Hujan” Marhalim Zaini, yang datang dan pulang dengan segala pernik ikannya. Berenang dengan nyaman dalam hujan. Berkelana dari teluk ke tanjung kehidupan dengan rasa nyaman. Mata dan hatinya embun, bertindak dan memandang alam sekitar dengan sederhana. Bau amis adalah jatidiri. Orang ikan tak begitu peduli pada sekitar, sepertinya bagi mereka semua orang sama; amis dan suatu ketika juga akan amis. Cuma saja, orang selalu memandang kepada yang lain, yang tak serupa dengannya yang belum punya ukuran pas. Mungkin standar dalam memandang sesuatu itu yang belum final. Amis, hitam, baik, sedap apa ukuran universalnya? Padahal, semua sesungguhnya sepadan. Warna? Ya, semuanya pantas, mau pakai baju merah celana hitam, tak masalah kan? Bahkan manusia hadri dalam keadaan tak pakai baju, apalagi memasang baju yang berwarna serasi menurut orang modern. Rasa? Ya, segalanya bisa, makan belacan digelimang kentucky, cencaluk dengan hamburger, kenapa tidak? Perisa? Boleh segala jadi, bukankah memadukan cengkok Melayu dengan jazz Afro Amerika juga tiada salah? Irama dangdut dengan klasik ‘ngapa tak boleh? Semuanya kenapa perlu pembatasan tajam? Kenapa manusia terlalu sibuk dengan sempadan-sempadan yang tak urgen? Kenapa tidak seperti air mengalir saja? Bukankah dunia ini hanya sebuah proses menuju jalan pulang? Tidakkah yang abadi itu setelah pulang? Persoalan yang matan itu ‘kan cuma proses pulang. Apakah selama merantau punya bekal yang cukup atau tidak. Pulang dalam keadaan matahari berawan atau dalam hujan. Pulang dengan sejumlah atribut atau dalam keadaan telanjang? &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Orang ikan lahir dalam telanjang, dan pulang dalam hujan dengan keadaan telanjang. Kalau warna-wama telah memenuhi jism dan roh, maka ada dua kemungkinan, beruntung atau malah rugi. Tapi kalau datang persis dengan semula jadi, bagaimana? Bila tuan datang ke kampung ikan, maka di sini tidak ada bangunan strata-strata tertentu. Jika tuan gelisah bersama orang ikan, maka tuan harus bertanya sudah telanjangkah tuan? Sudah siapkah tuan pulang ke kampung abadi? &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ini berjalan berat, dingin dalam gigil, renta dalam penantian panjang seperti keadaan oplet yang ditumpangi orang ikan dan orang (yang katanya) modern ini. Mungkin ini disengaja pengarang untuk menjaga harmonisasi antara judul dengan kisah. Sebagai sebuah cerita yang mengambil setting sepanjang kampung-kampung Melayu, cerita ini begitu elok melukiskan bahwa otonomi daerah belum punya arti apa-apa bagi orang kampung. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika memamahbiak cerpen “Pulang” karya Hary B Kori’un, saya seperti mesti membuka laci ingatan pada sebuah pemukiman transmigrasi. Bercerita tentang orang trans, menyakitkan memang. Dulu di kampung saya, mereka selalu terasing, selalu termarjinalkan dari warga lokal. Ketika mereka datang di hari pasar ke kampung kami, mereka selalu menjadi objek pemandangan bagi kami. Mereka membawa ubi, keladi, tebu dan tanaman sayur dalam sebuah truk colt diesel kubang dengan topi pandan bagai cendawan yang hampir layu. Sepertinya, mereka selalu menjadi objek segala persoalan. Jika anak-anak sebaya saya ketika itu berjumpa dengan kami, dari raut muka mereka jelas sekali rasa minder terperam begitu ranum. Pedih memang. Sehingga banyak di antara mereka yang kembali ke negeri asal karena tak betah. Di pemukiman itu, semua kejadian adalah goresan dari sebuah kesalahan sejarah yang dibuat rezim penguasa ketika itu. Mungkin, di satu sisi orang tempatan memandang mereka sebagai anak emasnya penguasa pusat. Padahal itu nonsense. Hal ini bisa dilihat dalam cerpen “Pulang”.  Seorang ayah harus mendidik anaknya dengan sangat keras karena sang ayah tahu bahwa kehidupan di sini keras. Tapi bagaimana tanggapan anak? &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Negeri kita ini kehilangan ukuran-ukuran, kehilangan standar. Ukuran baik, standar jelek tak jelas. Standar mendidik dengan menghardik kabur. Ukuran cinta dan benci samar. Ya, kata orang ia seperti setipis kulit bawang. Lihatlah paragraf-paragraf berikut:&lt;br /&gt;“Kenapa bapak tidak suka dengan saya, Bu?” Tanyaku suatu saat kepada ibuku.&lt;br /&gt;“Dia mencintaimu, juga kakak-kakakmu. Tetapi seperti itulah caranya mencintai, suatu saat nanti kalau kamu sudah besar,  kamu akan tahu bahwa dia begitu mencintai kita... “Ibuku berkata begitu sambil berjalan menuju dapur. Aku tahu dia menangis.&lt;br /&gt;Ketika kembali ke tempat tidurku dengan segelas air putih, aku melihat matanya sembab. “Begitukah cara laki-laki mencintai, Bu? “ tanyaku lagi. Ibuku mengangguk. “Iya, itu cara bapakmu mencintai. Tetapi tidak semua laki-laki begitu cara mencintai... “&lt;br /&gt;Kembali ke orang ikan, maka hati yang telanjang dan menerima dengan dada telanjanglah semua ukuran itu bisa ditetapkan agar hidup ini punya perisa. Hal ini yang kurang dipahami si anak sehingga ia merasa harus pergi dan tak akan pulang lagi ke rumah ayahnya. Tapi, pulang itu pasti, siapapun takkan bisa lari. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ini menarik dengan bahasa yang sederhana dan penggambaran orang-orang trasmigrasi yang kurang tersentuh oleh pengarang kita hari ini. Pengarang memang memiliki cara mereka sendiri-sendiri mengakhiri kisahnya. Cerita ini diakhiri dengan proses dramatisasi yang cukup menyentak. SMS tiba ketika petir berdentum! Dahsyat memang... tapi, haruskah seperti itu ending yang baik? Ya, sah-sah saja. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Lalu saya harus bertemu dengan seorang perempuan yang mati karena keangkuhan kaum Adam. Cerpen ini berjudul ‘’Perempuan Itu Sudah Mati” karya Fitri Mayani. Sesungguhnya ini merupakan cerpen perlawanan. Gerakan feminisme terselubung dengan santun di sini tapi ia sangat mahal dan tajam. Tak seperti kebanyakan cerita serupa yang ditemui di Indonesia kini. Cerita ini mengandung kearifan perempuan sebagai labuhan tempat bertambatnya sebuah perahu bernama Adam. Mana yang lebih hebat, marah dengan seribu caci-maki, segudang hamun-maki daripada diam seribu kata? Perempuan ini memilih diam seribu bahasa untuk melawan suaminya yang tampak begitu mudah melupakan anak mereka. Cerpen ini patut mendapat tempat karena sederhana dan bercerita dengan tulus. Di samping itu, cerpen ini memang sukses menjadi sebuah kisah, ia bukan kata-kata yang indah yang dirangkai menyerupai puisi dan esai filsafat. Pada hemat saya, di Riau, bahkan di Indonesia hari ini, itulah yang sulit ditemui. Terkadang orang harus berprosa ketika berpuisi. Dan berpuisi ketika berprosa. Tidak jarang pula, orang ingin beraneh-aneh tapi tiada guna. Itu bukan tak boleh, tapi kalau sesuatu yang biasa bisa menyentak dan memberikan pencerahan bagi kemanusiaan kenapa harus beraneh-aneh? Kalau ada sesuatu yang mudah kenapa harus berpayah-payah? Tak salah memang, tapi sebaiknya pulangkan ia ke tempat masing-masing. Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan segala kemudahan. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt; Hal yang sama terlihat dalam cerpen “Dia Selalu Menangis Setiap Melihat Matahari Muncul dari Balik Kabut Asap” karya M Badri. Cerpen ini mengalir begitu tenang seperti air tergenang sehabts pasang. Setiap kata yang dirangkai menyejukkan walau sesungguhnya menimbuikan efek gigil, geletar dalam batin. Tidak ada yang aneh pada kisah ini, cuma judulnya saja yang agak panjang. Jika saya diberi kuasa memberi judul cerpen ini mungkin ia akan bertajuk “Perempuan yang Menyimpan Api Abadi di Dadanya.” Cerpen ini berkisah tentang sepasang pengantin. Sang suami bekerja pada perusahaan minyak yang akhirnya meninggal karena ledakan pipa yang pecah akibat hutan yang terbakar. Setiap ada asap yang menebar di tengah kota, perempuan itu selalu menjerit mengingat kepergian kekasihnya. Melihat kepiawaian cerpenis ini merangkai  kata yang jernih dan memainkan imaji dalam cerpen ini,  tak berbihan bila cerpenis ini berada di julangan utama dalam peraduan cerpen yang ditaja CWI (Creative Writing Institute) dan Menpora tahun 2006.&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika memasuki ladang cerpen berjudul “Dua Perempuan Sunyi” yang ditulis oleh Pandapotan MT Siallagan. Lagi-lagi kearifan seorang perempuan jelas tersimpan di situ. Perempuan pertama; ibunya yang keturunan orang kaya di kota menikmati kehidupan di desa dengan kebun kakaonya setelah suaminya meninggal. Perempuan kedua, dr Hanna Bertha, anaknya menjadi perempuan yang asali bisa menerima keadaan suaminya yang kaku dengan segala ketulusan. Dua perempuan ini tidak gelisah atas ‘bencana’ yang menimpa mereka karena mereka sadar, bahwa sebagai perempuan, hiasan untuk berkilau itu lebih banyak harus berhulu darinya. Maka di sint tiada pemberontakan atas kekurangan kaum Adam. Keihlasan adalah kunci mencintai. Pada awalnya, cinta bukan untuk menerima tapi memberi dengan segala kebeningan. Kebersamaan Adam dan Hawa bukan menikmati terangnya sinar purnama tapi menjadi purnama itu sendiri. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kini saya tersandar di dinding “Masjid Komplek” prostitusi karya Joni Lis Effendi. Azan Subuh baru saja berdentang tapi jemaah tak banyak datang. Setelah Subuh rampung, saya mulai memahami jalan pikiran pemerintah yang ingin merobohkan masjid ini. Juga kalau perlu masjid-masjid yang lain. Buat apa masjid kalau jamaah menjadikannya hanya sebatas simbol? Kenapa masjid ini tak dibawa saja ke dalam diri masing-masing? Masjid bukan materi pameran! Masjid adalah sentana dalam diri, di mana di situ Tuhan bersemayam, kemanusiaan bermahkota, kebinatangan dan kesetanan dibuang jauh. Begitu pula dalam cerpen “Lorong Beraspal  ke Masjid” karya Gde Agung Lontar. Kini orang makin sulit membedakan antara pura, candi, gereja dan masjid dengan diskotik, mal dan jembatan. Manusia sekarang beringas. Korupsi telah berkelana di serata tempat.&lt;br /&gt;Aku adalah seorang pengusaha jasa konstruksi, aku tahu betul mana bangunan yang  dikerjakan dengan memenuhi segala persyaratan yang telah ditetapkan. Reretak yang muncul bagai sulur yang merayap ke sekujur tubuh masjid, kosen dan bingkai yang meregang, cat yang memudar dan berjamur, ...membuat tubuhku tetiba serasa lunglai. Syam, ini masjid, Syam,.. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ini cukup menarik karena cara bercerita pengarang yang begitu santai namun banyaknya kata-kata seperti ‘reretak’ yang awalnya adalah retak-retak atau tiba-tiba menjadi ‘tetiba’ dan bertanya-tanya menjadi bertetanya serta sejumlah kata lain yang terasa agak mengganggu bisa dibuat seenaknya saja? &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Melihat isi cerpen ini, mungkin Sobirin Zaini benar, bahwa di negeri kacau-balau ini lebih baik menjadi “Kelelawar” daripada menjadi manusia, seperti dalam judul cerpennya. Dan jadi “Topeng Monyet” dalam cerpen Nyoto pun sangat jauh lebih baik daripada jadi orang; manusia. Bercerita tentang cerpen “Topeng Monyet”, pengarang cukup sukses mengaduk-aduk perasaan pembaca sehingga kepedihan menyelinap begitu dalam seusai membaca cerpen tersebut. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam kematian Edi RM, sebagai cerita, tak cukup sukses, namun karena ini seperti autobiografi, maka “aku” yang ditulis tidak menjadi prismatis. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerpen “Tanah” dirangkai oleh penulisnya, Aleila,  dengan kata yang cukup puitis namun terkadang terdapat tanafur kalimah di dalamnya. Saya tidak tahu entah apa pasalnya cerpen ini ditempatkan pada halaman pertama dalam kumpulan ini. Entah karena “Pulang” yang dimaksud editor buku ini merupakan tempat terakhir di mana sebuah insan akan mengakhiri semua kisahnya di sini? &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Sementara cerpen “Ciut” karya Jefry Al Malay, bercerita tentang seorang yang takut akan kematian. Hampir semua makhluk takut akan hal itu kecuali kaum sufi yang selalu melukiskan bahwa kematian itu adalah masa-masa indah yang sangat ditunggu-tunggu kedatangannya. Dan kuburan itu menurut mereka adalah istana megah yang merupakan gerbang perdana menuai hasil kehidupan fana. Cerpen ini hampir masuk wilayah itu seperti terlihat dalam dialog berikut: “Kalau memang nyawaku harus  Engkau ambil di tahun ini ya Tuhan... aku ikhlas. Karena walau  bagaimanapun aku percaya ampunan-Mu tak terbilang luasnya... Maka ampunkanlah dosa-dosaku yang tak terbilang pula banyaknya...” &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Apa arti doa sebenarnya? Sebuah pertautan dengan Tuhan untuk membuat sesuatu terjadi atau tak terjadi, atau sekadar ikhtiar untuk menghibur gundah? Apakah agama sebenamya? Sebuah iman untuk penyelamatan di dunia dan akhirat, atau kemudian seperti yang dikatakan Karl Marx, “Desah keluh makhluk tertindas, hati di dunia yang tak punya hati, semangat dan keadaan yang tanpa semangat?” Apapun artinya, pada akhirnya orang percaya bahwa bukan ora melainkan juga labora, bukan dengan berdoa saja, melainkan bekerja  —itulah yang membungkam mereka dari ketakutan. Demikan kata Goenawan Mohamad. Rasidin telah begitu takut kepada maut, ia menyesali dosanya tapi akankah maghfirah, ampunan itu datang hanya dengan sebuah penyesalan tanpa bekerja, beramal untuk menebus segaia kekhilafan? &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen “Deru Waktu” karya Hang Kafrawi,  Tuhan bersumpah dengan waktu. Itu artinya, sesuatu yang mahapenting berkait-mait dengan itu. Cerpen ini memperlihatkan sedikit pergeseran garapan yang dilakukan pengarangnya. Kalau dulu Hang Kafrawi bercerita banyak tentang dunia Melayu lama dengan segaia tetek-bengeknya dan berupaya menyandingkannya dengan ikhwal kekinian (seperti yang telah dipahat oleh Taufik Ikram Jamil). Kini Hang Kafrawi telah mengalir dan beralih seiring deru waktu. Bonjour! Buat Hang Kafrawi, jangan lagi terbuai di bawah kegemilangan pendahulu. Kita adalah kita yang hidup hari ini, dan berhak menetak sendiri sejarah kita. Bukan menangisi masa lalu yang berdelau dengan seribu isak sedan yang tak perlu. Bercermin dari masa lalu boieh, tapi jangan tak berganjak dari itu ke situ. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerpen “Perempuan di Luan Sampan”, mengingatkan saya pada cerpen-cerpen Dantje S Moeis dalam kumpulan cerpennya Semah Japura Laut. Hampir semuanya bercerita tentang alam bunyian; bunian. Dalam cerpen ini kelihatan kearifan lokal masih bersemedi pada kisah tersebut. Pun dalam cerpen Musa Ismail yang berjudul “Keselap!”, kearifan lokal berupa percaya kepada alam lain seiain alam nyata ini tidak ditinggalkan begitu saja, walau sekarang bukan lagi  zaman tradisional. &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Musa Ismail merupakan muka lama yang masih eksis. Dan sebagai penulis, ia konsisten menjadi seorang pencerita yang handal. Ini terlihat ketika ia menjuarai salah satu lomba menulis cerpen di Jakarta baru-baru ini yang diadakan Depdiknas. Semula saya ingin berhenti membaca cerpen “Keselap!” namun saya malah keselap dengan cerpen ini. Kisah ini memaksa saya untuk menyelesaikan penyelamannya sekali duduk. Hebat! &lt;/div&gt;  &lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku Jalan Pulang ini, ada memang beberapa cerpen yang membuat saya harus berulang-ulang membacanya dan akhirnya tak tamat. Saya gelisah. Mungkin teks di kepala saya tak mampu melumatnya.  Maaf... salah-satunya seperti cerpen yang berjudul “Surat, Asap, Aku dan Percikan Darah Bidadari” karya Verrin Ys. Setiap memulai menyantap kata dan kalimat yang terdedah, pikiran saya langsung beralih ke cerpennya yang terdahulu berjudul “Keberangkatan”. Cerpen yang pernah masuk antologi cerpen Riau Pos tahun 2002. “Keberangkatan” begitu pas untuk mencium bau laut dan melukis pelangi senja, dengan sentuhan rasa yang begitu memikat. Dan terasa sekali kalau yang bercerita itu memang ceritanya, bukan pengarangnya. (Maaf, ini hanya masalah kecendrungan pembaca semata yang tentu saja bersifat impressionistis). Saya merindukan cerpen Verrin Ys yang lain seperti “Keberangkatan” itu.&lt;br /&gt;Akhirnya, minta maaf, tabik atas segaia kekeliruan!***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Griven H Putera &lt;/strong&gt;&lt;em&gt;adalah salah seorang cerpenis Riau. Cerpen-cerpennya dimuat di banyak media dan beberapa antologi. Bersama Marhalim Zaini dan M Badri,  menjadi cerpenis Riau yang berhasil masuk dalam nominator lomba cerpen CWI dan Kantor Menpora 2006 (M Badri menjadi juara pertama) yang dibukukan dalam buku kumpulan cerpen Loghtong.  Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan dalam diskusi dan bedah buku yang diadakan oleh Komunitas Paragaraf, Sabtu, 20 Januari 2007. Untuk kepentingan ini dilakukan penyuntingan seperlunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color: rgb(0, 0, 153);"&gt;Sumber: Riau Pos, Minggu 28 Januari 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-117065644614450312?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/117065644614450312/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=117065644614450312' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/117065644614450312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/117065644614450312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2007/02/jalan-pulang-sketsa-pelangi-sastra.html' title='”Jalan Pulang”: Sketsa Pelangi Sastra Riau Terkini'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-116860789801422291</id><published>2007-01-12T05:13:00.000-08:00</published><updated>2007-01-12T05:18:18.046-08:00</updated><title type='text'>Pemenang Cerpen Escaeva</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;20 Cerpen terbaik yang dipilih olehEscaevaer adalah:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;------------ --------- --------- --------- ---------&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;019. Buku Bersampul Coklat 12 suara - Fenty Febriyanti&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;------------ --------- --------- --------- ---------&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;040. Gema 11 suara - Titon Rahmawan&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;052. Idiot 11 suara - Titon Rahmawan&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;------------ --------- --------- --------- ---------&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;020. Buku Harian Mimin 9 suara - Titon Rahmawan&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;039. Gadis Pemimpi 9 suara - Fenty Febriyanti&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;------------ --------- --------- --------- --------&lt;br /&gt;015. Bayi 8 suara - Levy Friantina&lt;br /&gt;038. Gadis Kecil Bernama Lila 8 suara - Titon Rahmawan&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;------------ --------- --------- --------- --------&lt;br /&gt;011. Apa Artinya Ukuran? 7 suara - Astari Mayang&lt;br /&gt;032. Diberikannya Air Kehidupan... 7 suara - Wawan Eko Yulianto&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;061. Jika Saja 7 suara - Farida Susanty&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;081. Lelaki Berwajah Ramah Dan... 7 suara - Wetry Febrina&lt;br /&gt;082. Lelaki Bidadari 7 suara - Fati Soewandi&lt;br /&gt;086. Lukisan Musim Panas 7 suara - Farida Susanty&lt;br /&gt;092. Mata Pisau 7 suara - Indarpati&lt;br /&gt;110. Pendakian Terakhir 7 suara - Novieta Riesna H.&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);font-size:130%;" &gt; 112. Perempuan Memeluk Rembulan 7 suara - M. Badri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;140. Surat Dari Rantau 7 suara - Diah Pramudiastuti&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;------------ --------- --------- --------- --------&lt;br /&gt;002. Aku dan Mama 6 suara - Nursalam AR.&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;014. Bapak 6 suara - Diah Pramudiastuti&lt;br /&gt;111. Perahu Kertas 6 suara - Titon Rahmawan&lt;br /&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;------------ --------- --------- --------- --------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian ke-20 cerpenis akan mendapatkan hadiah masing-masing dua buah buku dari Escaeva. Hadiah akan dikirim ke alamat masing-masing. Terima kasih &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="IN"&gt;&lt;br /&gt;Penerbit Escaeva&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-116860789801422291?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/116860789801422291/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=116860789801422291' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/116860789801422291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/116860789801422291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2007/01/pemenang-cerpen-escaeva.html' title='Pemenang Cerpen Escaeva'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-116800883783716394</id><published>2007-01-05T06:44:00.000-08:00</published><updated>2007-01-05T06:53:57.890-08:00</updated><title type='text'>Pemenang Sayembara Cerpen CWI 2006</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0); font-weight: bold;font-size:130%;" &gt; Loktong Juara Lomba Cerpen CWI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Sumber: Republika, Ahad, 24 Desember 2006.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-align: justify;" class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Cerpen berjudul Loktong karya cerpenis Bogor, M Badri,&lt;/span&gt; memenangkan Sayembara Menulis Cerpen Festival Kreativitas Pemuda 2006 yang diadakan oleh Creative Writing Institute (CWI) bekerjasama dengan kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;Terpilih sebagai juara kedua cerpen Pintu Yang Terkunci karya Azizah Hefni dari &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Malang&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, Jawa Timur. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sedangkan juara ketiga diraih cerpen Pendulang Emas karya M Husni Abid dari Yogyakarta. Dewan juri yang diketuai oleh Hudan Hidayat – yang juga menjadi ketua panitia lomba– juga memilih 27 cerpen nominasi untuk dibukukan. Hadiah bagi para pemenang, menurut Hudan, akan segera dikirimkan ke alamat masing-masing. Lomba tahun ini merupakan yang keempat, dan diikuti sekitar 900 peserta.***&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;" lang="SV"&gt; &lt;!--[if !supportLineBreakNewLine]--&gt;&lt;br /&gt; &lt;!--[endif]--&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-116800883783716394?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/116800883783716394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=116800883783716394' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/116800883783716394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/116800883783716394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2007/01/pemenang-sayembara-cerpen-cwi-2006.html' title='Pemenang Sayembara Cerpen CWI 2006'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-116661084346832309</id><published>2006-12-20T02:25:00.000-08:00</published><updated>2006-12-20T02:34:03.490-08:00</updated><title type='text'>Kritikus Sastra Riau, di Mana Persembunyianmu?</title><content type='html'>&lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;strong style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Oleh Hary B Kori’un&lt;/strong&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="text-align: justify;"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;ADA&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; anggapan bahwa dunia satra Riau mengalami stagnasi yang hebat saat ini. Krisis karya telah terjadi dan orang-orang yang selama ini bekerja untuk sastra, mulai pelan-pelan beralih ke dunia yang lain. Memang, penghargaan untuk mereka yang bergelut di bidang sastra di Riau, mendapat apresiasi lumayan besar dengan banyaknya penghargaan, mulai dari Anugerah Sagang (untuk beberapa kategori baik karya maupun personal), Anugerah Ganti (karya novel), Laman Sastra Dewan Kesenian Riau (untuk beberapa karya kreatif seperti cerpen, naskah drama, puisi dan lainnya) sampai Anugerah Seniman Perdana (SP) dan Seniman Pemangku Negri (SPN) yang secara materi sangat besar. Penghargaan-penghargaan itu membuat para sastrawan di luar Riau merasa iri. Mereka berpikir, orang-orang yang mendapatkan penghargaan itu adalah mereka yang sangat eksis di bidangnya, dan bisa melecut lahirnya para sastrawan (karya) baru yang secara kualitas akan lebih baik lagi. Lalu di mana peran kritikus? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;Namun, karya berkualitas yang diharapkan lahir dari itu semua dan akan munculnya sastrawan yang memiliki keinginan untuk berkarya lebih baik lagi, tak juga muncul ke permukaan. Lihatlah, dari tahun ke tahun, mereka yang yang menelurkan karyanya hanya “itu ke itu” juga. Mereka yang secara personal maupun karya menjadi nominator Anugerah Sagang, juga tak jauh beda dari tahun-tahun sebelumnya. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; novelis yang karyanya masuk nominator Anugerah Ganti, juga nama-nama yang yang sudah familiar kecuali satu-dua yang baru. Laman Sastra DKR dari tahun ke tahun juga memunculkan karya dari mereka yang sudah lama eksis di bidang itu, dan secara kualitas juga tak terlalu signifikan peningkatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Taufik Ikram Jamil dalam beberapa tahun belakangan tak terlihat karyanya muncul di media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, banyak orang yang menyayangkan, terutama mereka yang masih ingin banyak belajar dari karya-karyanya. Sebab, selama ini, bersama Fakhrunas MA Jabbar –dan belakangan Marhalim Zaini—, Taufik adalah salah satu ikon penulis subur Riau yang mampu menembus belantara media nasional yang persaingannya memang amat ketat (meski belakangan terdengar santer tentang skandal redaktur budaya di koran Jakarta yang tidak obyektif dalam memilih karya yang akan dimuat di medianya). Memang, nama-nama seperti Olyrinson belakangan juga mampu melakukannya, namun intensitasnya masih belum sesubur para “senior”-nya itu. Bahkan, belakangan  orang juga kesulitan mencari karya terbaru dari Syaukani Al Karim maupun Abel Tasman, baik di koran maupun dalam bentuk buku. Sementara senior yang lainnya hanya sesekali menulis, hanya sekedar mengambil absen agar “tidak dilupakan orang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, mereka yang lebih muda dari usia maupun pencapaian, juga masih belum mampu bersaing dan memperlihatkan jati dirinya. Pengalaman sebagai redaktur budaya di Riau Pos, membuat saya bisa melihat ritme dan perkembangan sastra di Riau, dari kaca mata media, dan khusus kaca mata Riau Pos. Rata-rata, mereka yang mengirimkan karyanya  orangnya tak banyak berubah, dan kualitas karyanya juga belum mencapai avan-garde dan pantas dikedepankan. Banyak yang masih sekedar asal berkarya dan tidak berusaha mencari jati diri (meminjam istilah Hasan Junus) yang menjadi ciri khas dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ke mana Murparsaulian, Hang Kafrawi, Griven H Putra, Syaukani, Gde Agung Lontar, Nyoto, &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;M Badri&lt;/span&gt;, Pandapotan MT Siallagan, dan yang lainnya (sekedar menyebut nama) mempublikasikan karyanya? Yang lebih jauh lagi, mengapa, Mostamir Thalib, Sutrianto, Yose Rizal Zen, Wise Marwin dan yang lainnya tak lagi menyiarkan karyanya? Yang menarik, banyak mereka yang dulu sangat aktif bergelut di sastra, kini memilih menjadi pengusaha atau masuk partai dan tak berkarya lagi (hal sebaliknya justru terjadi pada Rida K Liamsi, yang semakin maniak bersastra ketika sukses menjadi pengusaha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, di tengah memadamnya api dari mereka yang dianggap senior itu, anak-anak muda seperti Sobirin Zaini, Ellyzan Katan, Aleila, Joni Lis Effendi, Syaiful Bahri, Muhalib, Fariz Iksan Putra dan yang lainnya masih terus berkarya dan bekerja keras untuk mencari identitas dirinya melalui karya, namun tetap karya mereka belum mampu menyusul para seniornya untuk manggung ke media yang lebih banyak pembacanya, yakni media nasional. Memang, dalam manifesto sastra pedalaman yang muncul di tahun awal 1990-an, media nasional dianggap tidak begitu penting dalam membangun eksistensi dunia sastra kita sebab bagi sastrawan, di manapun menyiarkan karya, dan apapun jenis medianya, tetap memperlihatkan eksistensinya sebagai pengarang. Tetapi, jelas, kita tidak bisa menutup mata bahwa sebuah karya yang dibaca oleh audiens yang lebih banyak dan luas, sangat berpengaruh pada eksistensi karya dan pengarangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas dan Sanggar&lt;br /&gt;Belakangan, perlawanan terhadap eksistensi media massa nasional sebagai “pembaptis” sastrawan, juga dilawan oleh mereka yang merasa eksis di media maya, seperti situs sastra atau malah mereka yang ramai menyiarkan karyanya di media yang lebih terbatas lagi seperti milis sastra. Milis Apresiasi-Sastra misalnya. Meski baru berusia muda, namun milis ini belakangan menjadi tempat diskusi dan publikasi para sastrawan dari berbagai genre, usia dan tempat tinggal yang menyebar di berbagai belahan dunia, dan banyak juga yang sudah sangat eksis di jagad sastra &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;. Sekedar menyebut nama JJ Kusni (tinggal di Paris), Ikranagara (Amerika Serikat), Sobron Aidit (Belanda), Labibah Zain (Montreal, Kanada), Sigit Susanto (Swiss), Mila Duchlum (Maladewa/Tanjung Pinang), Akmal Nasery Basral, Kurnia Effendi, Endah Sulwesi, Dino F Umahuk, Rahmat Ali, Ratih Kumala, Eka Kurniawan, Damhuri Muhamad, Sihar Ramses Simatupang (Jakarta), Lang Fang (Surabaya), Adi Toha, Henadi Tanzil (Bandung), Eko Sugiarto (Semarang), Hasan Asphahani (Batam), I Wayan Sunarta (Denpasar) Hary B Kori’un (penulis), Budy Utamy (Pekanbaru) dan sekian nama lainnya yang sangat aktif berdiskusi dan mempublikasikan karyanya, yang kemudian mendapat kritikan atau masukan dari yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rata-rata dari mereka sudah banyak  eksis, mampu menembus media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt; nasional, dan memiliki buku karya baik kumpulan kumpulan cerpen, esai, puisi atau novel. Milis ini secara berkala juga membuat forum diskusi maya dengan membahas karya-karya pengarang seperti Umberto Eco, Karl May, Budi Darma, Goenawan Mohamad, Gabriel Garcia Marques, Federico Garcia Lorca dan sebagainya untuk menambah wawasan. Selain itu, secara berkala juga, milis ini mengadakan lomba mengarang, baik cerpen maupun puisi dan kemudian kerjasama dengan penerbit untuk diterbitkan menjadi buku. Salah satu buku yang sudah terbit adalah kumpulan cerpen Selasar Kenangan (Akoer, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak milis sastra yang kini bermunculan dan menjadi tempat para sastrawan untuk mengasah kemampuan lewat diskusi dan sebagainya. Misalnya milis Penyair, Cybersastra, Kacangijo, Panggung, Gunung Merapi dan sebagainya. Mereka yang berkutat dengan sastra maya ini kebanyakan merasa nyaman karena mereka terbebas dari ribetnya berurusan dengan redaktur sastra media &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;massa&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:City&gt;, dan mereka tetap berkarya dengan mendapat masukan dari peserta yang lain. Mereka tidak memperdulikan kualitas ketika dipublis, tetapi ketika karya-karya mereka akan dibuat dalam bentuk antologi, seleksi ketat tetap dilakukan untuk mendapatkan karya yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu media untuk menyiarkan karya yang belakangan menjadi pilihan para pengarang (masih di jagad maya alias internet) adalah komunitas blog atau blogger. Blog ini lebih mirip website mini yang bisa dibuat sendiri oleh pemiliknya, tak harus membayar hosting sebagaimana website, dan dengan mudah bisa di-update kapan diinginkan. &lt;st1:place st="on"&gt;Para&lt;/st1:place&gt; aktivis blog juga menganggap media ini selain menjadi alat publikasi karya yang paling mudah (tentu jika memiliki fasilitas jaringan internet) bagi aktualisasi diri, juga menjadi alat perlawanan terhadap media cetak yang dianggap menjadi pembaptis sastrawan. Namun, fasilitas blog ini tidak hanya populer di kalangan sastrawan, tetapi sudah menjadi hal yang umum karena baik atlet, selebritis, dan bahkan orang biasa sudah banyak yang memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Riau berapa banyak sastrawan atau personal yang memanfaatkan blog dan milis sebagai sarana publikasi diri dan karya? Saya tak tahu persis, tetapi beberapa sastrawan seperti Fakhrunnas MA Jabbar dan &lt;span style="color: rgb(0, 0, 0);"&gt;M Badri&lt;/span&gt; sudah memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komunitas memang  perlu dan menjadi tempat yang baik bagi para pengarang untuk mengasah kemampuan  lewat diskusi, pembahasan sastra, tukar informasi dan sebagainya. &lt;span style="" lang="SV"&gt;Di Riau, memang tak banyak komunitas yang intens di situ. Memang beberapa komunitas dan sanggar seperti Forum Lingkar Pena (FLP), Paragraf, Sanggar Selembayung, Senapelan Writers Association (SWA) Latahtuah dan sebagainya, muncul. Tetapi sangat sedikit jumlahnya dibandingkan komunitas yang lahir di Padang, Lampung, Jakarta, Bandung atau Jogjakarta. Hal ini barangkali juga berpengaruhi tingkat kemunculan penulis muda, juga kualitas sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Kritikus&lt;br /&gt;Lalu, adakah peran kritikus dalam perkembangan sastra Riau? Ini yang menjadi tanda tanya besar. Sejauh ini, peran kritikus tak terlihat dalam khasanah sastra Riau karena tidak banyak (jika tak mau disebut tidak ada) yang mau secara serius menjadi kritikus. Padahal, Riau memiliki tiga perguruan tinggi yang memiliki fakultas atau jurusan sastra, meski  keguruan. Paling tidak, banyak sarjana sastra yang belajar sastra secara teoritik dan akademis yang memahami dan bisa menilai kualitas sebuah karya. Lalu, ke mana mereka bersembunyi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, secara berkala, ada satu-dua penulis yang menulis esai di media massa tetapi tidak serta-merta membahas karya secara mendalam sebagaimana kritikus. Mereka kebanyakan juga orang-orang yang menulis karya kreatif seperti cerpen dan puisi, yang tentu menulis esai hanya untuk mengasah kemampuan menulis dan bukan benar-benar ingin menjadi kritikus. Padahal, konon, Riau memiliki orang-orang yang punya kemampuan lebih dalam menilai karya sastra dengan teori akademis seperti Hasan Junus, UU Hamidy, Elmustian Rachman, Al Azhar, Hukmi, dan sekian orang dosen dan sarjana sastra yang setiap tahun dilahirkan oleh Unri, Unilak atau UIR.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, nama Maman S Mahayana belakangan malah melekat dengan sastra Riau, karena dosen satra di Universitas Indonesia yang tinggal di Depok ini sangat intens mengikuti dan mendalami satra Riau. Dalam Cakrawala Sastra Indonesia beberapa tahun lalu di Jakarta, Maman “disewa” oleh DKR untuk memberi pengantar kumpulan dan pembahasa kumpulan  cerpen Riau, Pertemuan dalam Pipa, yang diadakan di Jakarta. Sayangnya,  karya cerpen yang dipilih oleh DKR ketika itu tidak diambil dari sistem seleksi terbuka dan fair, tetapi mereka yang dipilih oleh DKR. Hal seperti ini sah-sah saja, tetapi mengingat banyak penulis cerpen yang ada di Riau, DKR terkesan pilih kasih dan subyektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, di luar persoalan itu, tampilnya Maman sebagai orang yang dipilih untuk membahas, memberi kata pengantar dan mengkritisi karya pengarang Riau, seharusnya menjadi tamparan yang memilukan bagi dunia kritik sastra Riau. Sebab, di daerah yang memiliki sejarah sastra begitu gemilang, dunia kritik sastra Riau ternyata tidak hidup, padahal (sekali lagi) tidak sedikit sarjana dan kritikus yang sebenarnya dimiliki Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, Riau juga memiliki lembaga kajian bahasa dan sastra, yakni Balai Bahasa Pekanbaru, yang setiap hari tugasnya meneliti dan menelaah bahasa dan sastra di daerah ini dan mendapat dana cukup besar dai Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Namun, Balai Bahasa Pekanbaru ternyata masih belum memiliki peran berarti dalam kemajuan dunia kebahasaan dan sastra Riau secara umum. Hasil kajian, telaah dan penelitian oleh Balai Bahasa Pekanbaru hanya tersimpan berdebu di perpustakaan atau malah dalam tumpukan kertas apak, karena tidak dipublikasikan kepada khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, saat berdiskusi bersama Olyrinson, Budy Utamy dan Marhalim Zaini, saya melontarkan ide: terus berkarya tanpa mempedulikan ada atau tidaknya kritikus sastra. Dan hampir senada mereka menjawab: “Kritikus ada karena ada karya, jadi benar, kita harus terus berkarya dan terus mempublikasikan. Kita berkarya untuk diri kita sendiri dan untuk dibaca oleh masyarakat, dan bukan untuk kritikus atau untuk disimpan di rak-rak apak yang tak terjamah oleh manusia…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritikus sastra Riau, di mana persembunyianmu? Bantulah sastra Riau agar bisa berkembang lebih signifikan lagi.***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Hary B Kori’un &lt;/strong&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;adalah wartawan dan penulis novel. Tinggal di Pekanbaru&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sumber: Riau Pos, Minggu, 26 Nopember 2006&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="" lang="SV"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 255);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-116661084346832309?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/116661084346832309/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=116661084346832309' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/116661084346832309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/116661084346832309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2006/12/kritikus-sastra-riau-di-mana.html' title='Kritikus Sastra Riau, di Mana Persembunyianmu?'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-115682708567218971</id><published>2006-08-28T21:47:00.000-07:00</published><updated>2006-08-28T21:51:25.686-07:00</updated><title type='text'>Pemenang dan Nominator Krakatau Award 2006</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Lampung, CyberNews.  Puisi “Tamsil Damar Batu” karya Jimmy Maruli Alfian (Lampung) dinyatakan sebagai juara I Krakatau Award tahun 2006 yang diadakan Dewan Kesenian Lampung. Dengan demikian Jimmy Maruli Alfian berhak mendapatkan hadiah sebesar Rp 1 juta.&lt;br /&gt;Selain itu, penyair akan diundang membacakan puisinya pada Pesta Kesenian Lampung bertepatan Festival Krakatau, 29 Agustus 2006 di Graha Wangsa, Telukbetung, Bandarlampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tamsil Damar Batu” keluar sebagai juara setelah menyisihkan 141 peserta (346 puisi) lainnya yang masuk ke panitia Lomba Cipta Puisi Krakatau Award Dewan Kesenian Lampung yang ditutup 10 Agustus lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan juri—terdiri dari Acep Zamzam Noor, Isbedy Stiawan ZS, dan Budi P. Hutasuhut—yang bersidang 21 Agustus lalu, menetapkan 3 karya puisi lain untuk juara II—IV: “Nyanyian tentang Tujuh Anak Tangga Rumah Panggung” (Anton Kurniawan, Lampung), “Dongeng Poyang Sepanjang Sungai” (Fina Sato, Bandung), dan “Pulau Kampung Pukau Lampung” (Hasan Aspahani, Batam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, dewan juri memilih 6 (enam) nominasi yaitu: “Malam Jaga Damar” (Komang Ira Puspitaningsih, Yogyakarta), &lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;“Bulan Menawan di Keratuan” (Muhammad Badri, Bogor),&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt; “Bakauheni dan Secangkir Kopi: Aroma Nostalgia” (ST Fatimah, Jawa Timur), “Mimpi Potong Rambut” (Lupita Lukman, Lampung), “Sebuah Panggung Bernama Lampung” (MT Zuharon, Yogyakarta), dan “Telah Kutitipkan Berkarung-karung Rindu Padamu” (Deny Ardiansyah, Jawa Timur).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewan juri juga merekomendasikan 10 karya puisi yang layak apabila panitia berencana menerbitkan buku antologi Krakatau Award. “Kami merekomendasikan kepada DKL agar puisi pemenang dan 10 yang direkomendasikan dapat diterbitkan menjadi buku,” kata Ketua Dewan Juri Acep Zamzam Noor (Jawa Barat). Ia beralasan karena puisi dari lomba yang bertema seperti ini dapat dijadikan sebagai promosi pariwisata dan seni budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Selain itu, puisi-puisi yang masuk juga sangat menarik. Artinya, unsur-unsul lokal (lokalitas) sudah bukan tempelan lagi, tapi sudah masuk ke persoalan budaya dengan pengetahuan, pengalaman, dan dengan intensitas. Sehingga simbol-simbol budaya yang muncul dalam puisi tak lagi terkesan tempelan, bahkan terjadi jalin-menjalin dan tetap memiliki benang merah sehingga puisi tak lepas dan berceceran,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ia berharap lomba semacam ini perlu dipertahankan sebagai sebuah tradisi yang akan menjadi identitas budaya Lampung. Sehingga peserta dari luar Lampung harus benar-benar mempelajari dan mendalami budaya-budaya di Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isbedy Stiawan ZS menambahkan, puisi-puisi yang masuk terutama yang terpilih nominasi adalah puisi-puisi yang kuat pada lokalitas—dalam hal ini, seni budaya, adat, dan wisata yang ada di Lampung. Lokalitas tak sekadar pemanis atau untuk dipas-paskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Para penulis benar-benar menghayati, dan bahkan ada yang sampai menafsir ulang masalah tradisi. Misalnya, puisi ‘Tamsil Damar Batu’-nya Jimmy Maruli Alfian,” jelas Isbedy dalam siaran pers Dewan Kesenian Lampung, Rabu (23/8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara M. Arman AZ, sekretaris pelaksana, menjelaskan peserta Krakatau Award tahun 2006 melebihi peserta lomba puisi serupa yang diadakan tahun 2004. Peserta tahun ini berasal berbagai propinsi, seperti DI Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, NTB, Bali, Madura, Riau, Kalsel, dan Sulsel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu membuktikan bahwa lomba cipta puisi bertema (wisata dan senibudaya) memang menarik dan menantang khalayak. “Karena itulah, pengumuman pemenang terlambat sehari dari yang dijanjikan: 20 Agustus 2006. Untuk itu panitia meminta maaf,” ujar cerpenis yang anggota Komite Sastra DKL.( mh habieb shaleh/Cn08 ) &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;Berikut selengkapnya Keputusan Dewan Juri Lomba Cipta puisi Krakatau Award 2006 (Acep Zamzam Noor, Isbedy Stiawan ZS, dan Budi P. Hatees):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara I&lt;br /&gt;Jimmy Maruli Alfian (Lampung)&lt;br /&gt;Judul "Tamsil Damar Batu"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara II&lt;br /&gt;Anton Kurniawan (Lampung)&lt;br /&gt;Judul "Nyanyian tentang Tujuh Anak Tangga Rumah Panggung"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara III&lt;br /&gt;Fina Sato (Bandung)&lt;br /&gt;Judul "Dongeng Poyang Sepanjang Sungai"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juara IV&lt;br /&gt;Hasan Aspahani (Batam)&lt;br /&gt;Judul "Pulau Kampung Pukau Lampung"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam nominasi adalah:&lt;br /&gt;1. Malam Jaga Malam -- Komang Ira Puspita (Bali)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;2. Bulan Menawan di Keratuan -- Muhammad Badri (Bogor)&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;3. Bakauheni dan Secangkir Kopi: Aroma Nostalgia -- St. Fatimah (Jawa Timur)&lt;br /&gt;4. Mimpi Potong Rambut -- Lupita Lukman (Lampung)&lt;br /&gt;5. Sebuah Panggung Bernama Lampung -- MT Zuharon (Yogyakarta)&lt;br /&gt;6. Telah Kutitipkan Berkarung-karung Rindu padamu -- Deny Ardiansyah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pemenang dan nominasi, dewan juri juga merekomendasikan sepuluh naskah puisi jika ingin dibukukan. Kesepuluh judul dan penyair itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pulang -- Endang Supriadi (Jakarta)&lt;br /&gt;2. Manik dari Pugung Raharjo -- Dian Hartati (Bandung)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:130%;color:#ff0000;"&gt;3. Tunggu Aku di Bakauheni -- Muhammad Badri (Bogor)&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;4. Cindai Bersulam Tapis -- Krissanta Daria Anni (Bandung)&lt;br /&gt;5. Wasiat Leluhur -- Elya Harda (Lampung)&lt;br /&gt;6. Solilokui -- Satmoko Budi Santoso (Yogyakarta)&lt;br /&gt;7. Tenung Asmara Telukbetung -- Asrina Novianti (Jakarta)&lt;br /&gt;8. Menanti Buih Kalianda -- Oggoy el Fitra (Padang)&lt;br /&gt;9. Kota Kenangan -- Sunlie Thomas Alexander (Yogyakarta)&lt;br /&gt;10. Lampung dalam Secangkir Kopi -- Tulus Jatmiko (Yogkakarta)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-115682708567218971?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/115682708567218971/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=115682708567218971' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/115682708567218971'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/115682708567218971'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2006/08/pemenang-dan-nominator-krakatau-award.html' title='Pemenang dan Nominator Krakatau Award 2006'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-115440086710242990</id><published>2006-07-31T19:53:00.000-07:00</published><updated>2006-07-31T19:54:27.113-07:00</updated><title type='text'>Sayembara Cerpen Pemuda 2006</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Sayembara Penulisan Cerpen Pemuda 2006&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; color: rgb(51, 51, 255);"&gt;Riau Pos Minggu, 23 Juli 2006&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;MENYONGSONG Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda 2006, sekaligus untuk meningkatkan kreativitas para cerpenis muda, panitia Festival Kreativitas Pemuda 2006 mengadakan Sayembara Penulisan Cerpen Tingkat Nasional bagi para cerpenis muda Indonesia.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam siaran pers yang diterima Riau Pos, kemarin, sayembara ini diadakan atas kerjasama antara Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI dengan Creative Writing Institute (CWI). Sayembara ini terbuka bagi cerpenis muda WNI berusia maksimal 35 tahun (dibuktikan dengan foto copy KTP yang masih berlaku). Penerimaan naskah peserta dibuka mulai 15 Juni 2006 dan akan ditutup tanggal 31 September 2006 (cap Pos).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Menurut Ketua Panitia Pelaksana, Hudan Hidayat, syarat-syarat lomba ini meliputi tema cerpen bebas, panjang tiap cerpen antara 9-12 ribu karakter, atau 4-7 halaman kuarto ketik satu spasi dengan huruf Times New Roman, font 12. “Cerpen yang diikut sertakan harus belum dipublikasikan di media massa, belum pernah dibukukan dan tidak sedang diikutkan ke lomba yang lain,” cerpenis dan novelis ini.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ditambahkannya, tiap peserta dibolehkan mengirim 2 cerpen atau lebih dan bagi peserta yang pernah mengikuti lomba ini lebih dari dua kali, tidak diperkenankan untuk mengikuti kembali untuk memberikan kesempatan bagi peserta lain. Naskah dikirim rangkap 4, disertai disket file cerpen tersebut dalam format ketikan MS Word, biografi singkat peserta dan foto setengah badan dalam gaya santai ukuran 4 x 6 cm. Naskah peserta beserta semua lampiran dimasukkan ke dalam amplop tertutup, dan dikirimkan ke panitia Sayembara Penulisan Cerpen Festival Kreativitas Pemuda 2006, Deputi Bidang Pemberdayaan Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga 2006, Jl Gerbang Pemuda No.3 Senayan Jakarta 10270, Telp (021) 5738152.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dewan juri yang terdiri dari para sastrawan dan cerpenis ternama akan memilih 3 (tiga) cerpen juara (1-3) dan 27 nominasi. Cerpen pemenang (1-3) dan 27 nominasi akan dibukukan dan hak penerbitan pertama atas cerpen pemenang dan nominasi ini ada pada panitia.&lt;o:p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Masih menurut Hudan, para cerpenis juara dan nominator akan diundang untuk mengikuti workshop penulisan dan pertunjukan baca cerpen di Jakarta. “Para pemenang akan mendapatkan hadiah uang tunai dengan nilai total Rp10 juta untuk juara 1-3, tropi dan piagam penghargaan. Sedangkan 27 cerpen nominasi yang dibukukan akan mendapatkan trofi yang layak, biaya transportasi dan akomodasi selama di Jakarta, serta uang saku. Hadiah akan diserahkan pada malam pertunjukan baca cerpen pada bulan November 2006,” jelas penulis yang menulis novel Tuan dan Nona Kosong bersama Mariana Amirudin ini.(hbk)&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-115440086710242990?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/115440086710242990/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=115440086710242990' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/115440086710242990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/115440086710242990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2006/07/sayembara-cerpen-pemuda-2006.html' title='Sayembara Cerpen Pemuda 2006'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-115176460714247371</id><published>2006-07-01T07:36:00.000-07:00</published><updated>2006-07-01T07:36:47.150-07:00</updated><title type='text'>Anugerah Seni Krakatau Award 2006 untuk Puisi Terbaik</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;Dewan Kesenian Lampung (DKL) kembali menganugerahkan Krakatau Award 2006 kepada sastrawan. Tahun ini akan diberikan kepada karya puisi terbaik bertema Wisata dan Budaya Lampung karya penyair Lampung dan daerah lainnya. Seleksi penerima Krakatau Award 2006 dibuka hingga 10 Agustus bagi calon penerima yang mengirimkan karya puisinya sesuai stempel pos. Setiap peserta boleh mengirim maksimal tiga puisi ke Sekretariat Dewan Kesenian Lampung, Jalan Sumpah Pemuda, kompleks PKOR Way Halim, Bandar Lampung, telepon 0721-703077.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia hanya menerima karya asli dan bukan terjemahan. Syarat lain, karya itu tidak sedang diikutsertakan pada perlombaan lain atau dipublikasikan. Para calon penerima diminta mengetik naskah karyanya dengan satu spasi di kertas kuarto rangkap empat. Setiap karya tidak dibenarkan dibubuhi nama pengarang karena biodata penyair disertakan pada lembar terpisah.  Seluruh penyair yang berdomisili di Tanah Air diperbolehkan mengikuti lomba ini tanpa  dibatasi usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tema karya puisi  mengenai seni budaya, tradisi, dan pariwisata di Provinsi Lampung. Dan, bukan sekadar tempelan atau hiasan, tapi diutamakan melakukan eksplorasi kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman pemenang akan disampaikan lewat media massa atau pemberitahuan langsung pada 20 Agustus 2006. Dewan Juri akan menentukan empat karya puisi penerima Krakatau Award 2006. Setiap penerima mendapatkan hadiah piagam dan Rp1 juta untuk juara satu, juara II (Rp700 ribu), juaraIII (Rp500 ribu), dan juara IV Rp300 ribu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-115176460714247371?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/115176460714247371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=115176460714247371' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/115176460714247371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/115176460714247371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2006/07/anugerah-seni-krakatau-award-2006.html' title='Anugerah Seni Krakatau Award 2006 untuk Puisi Terbaik'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-30390402.post-115163933696773718</id><published>2006-06-29T20:44:00.000-07:00</published><updated>2006-06-29T20:48:56.980-07:00</updated><title type='text'>Sebuah Pengalaman, Bukan Memetakan</title><content type='html'>&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;(Catatan Editor untuk Kumpulan Cerpen, Sajak dan Esai ”Tafsir Luka”)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Oleh Hary B Kori’un&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;SUATU pagi di hari Minggu, saya mendapat pesan pendek (sms) dari seorang pengarang, isinya: “Saya sudah menunggu lebih dari empat pekan, tetapi naskah saya belum juga dimuat. Apakah memang tak layak muat? Kalau memang tak muat, saya tarik lagi naskah tersebut...” Sms tersebut datang dari salah seorang pengarang yang lumayan terkenal di Riau, bahkan karyanya sudah banyak menghiasi halaman budaya media nasional. Saya bisa maklum dengan pertanyaannya itu.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Di hari yang lain, saya mendapatkan e-mail dari seorang pengarang yang juga mengenal saya, kali ini, dia memang masih “yunior” baik dari segi usia maupun pergulatannya dengan dunia sastra. Katanya: “Saya bisa mengerti kalau naskah saya belum layak muat, saya minta masukannya agar suatu saat naskah saya layak untuk dimuat...”&lt;br /&gt;Di lain kesempatan, seorang pengarang sangat senior, menelepon saya. “Mengapa tulisan saya diedit lagi? Bukankah di naskah tersebut saya sudah memberi pesan agar naskah itu tidak perlu diedit. Saya tidak mau karena Anda mengedit, karakter saya hilang dan pembaca saya akan bingung...”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Pernah juga, seorang pengarang yang mengaku karyanya pernah dimuat di banyak media (herannya, tak satupun saya pernah membaca karyanya), marah-marah ketika saya katakan kepadanya tentang orisinilitas karyanya, juga keinginan saya untuk mengedit naskahnya. Terus terang, ketika membaca naskahnya (cerpen), saya sangat tertarik karena cerpen tersebut sangat bagus (menurut ukuran saya) dan saya akan memuatnya. Namun, kemudian saya bertanya-tanya, jika dia penulis berpengalaman, mengapa saya tak pernah membaca karyanya (saya tahu ini sangat subyektif), dan –ini yang membuat saya jadi curiga—penggunaan Bahasa Indonesianya, maksudnya ejaan yang benar, sangat “parah”. Membedakan “di” dan “ke” sebagai kata depan atau awalan saja, dia tidak bisa. Dia menulis “di rumah” dengan “dilakukan” penulisannya sama. Ini belum yang lainnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, e-mail-nya saya balas. Intinya saya menanyakan apakah benar ini karya aslinya, dan bolehkah saya mengedit bahasanya agar sedikit lebih benar dengan standar bahasa Indonesia yang dipakai koran, terutama Riau Pos. Namun ternyata balasannya sangat di luar dugaan saya. Begini isinya: “Jelas, itu karya asli saya. Dan saya tidak mau saya kehilangan karakter kalau naskah itu diedit. Sekarang to the point saja, apakah karya saya itu layak muat atau tidak. Kalau layak silakan dimuat apa adanya, kalau tidak ya tidak usah dimuat, biar saya kirim ke media lain!”&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Cerita ini belum selesai. Suatu hari, seorang teman (yang kebetulan memang seorang penulis lumayan bagus untuk ukuran lokal Riau) menghubungi saya dan mengatakan bahwa dia sangat ingin naskahnya dimuat secepatnya karena dia perlu honornya. “Saya sedang bokek nih. Tolong ya frend...”  Bahkan pernah, seorang pengarang yang katanya sangat senior dan saat ini menjadi figur publik, dengan setengah “memaksa” menelepon dan mengatakan bahwa dia punya naskah, dan, “Saya ingin dimuat untuk Ahad besok, kalau ditunda pekan depan sudah basi misi yang dikandungnya...” katanya dengan nada dingin. Dia mengirimkannya hari Sabtu siang, padahal halaman Budaya Riau Pos naskahnya sudah selesai diedit dan di-lay out pada Jumat malam. Dan ketika naskah itu ditunda pemuatannya alias tidak diturunkan pada Ahad itu, dia mengatakan bahwa baru kali itu ada seorang redaktur media di Pekanbaru “berani” menunda naskahnya. Wah!&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak lagi kisah-kisah yang saya alami selama menjadi “penjaga gawang” rubrik Budaya ini. Dan saya tetap bisa menikmatinya dengan santai dan tenang tanpa beban apapun. Sebab, membaca karya sastra dan budaya (menjadi editor harus membaca semua naskah sampai selesai, bukan?) bagi saya adalah menjaga kadar rasa bahasa itu sendiri. Dan meskipun dalam sehari-hari saya harus membaca naskah olahraga (dengan segala “kekerasan bahasanya”) dan sering harus menulisnya, saya tetap ingin menjaga kadar “rasa” bahasa itu.&lt;br /&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;PENGALAMAN menghadapi beragam pikiran dan keinginan para penulis budaya di Riau ini seperti ilustrasi di atas, telah banyak memberi pelajaran berharga bagi saya untuk belajar memahami karakter masyarakat, terutama masyarakat budaya di Riau.  Kondisi masyarakat pluralisme yang tumbuh di Riau terlihat benar dalam naskah-naskah yang dikirimkannya. Misalnya, penulis yang memiliki latar etnis Melayu, bisa terlihat dari naskahnya yang berusaha memakai banyak istilah Melayu dan ciri yang lainnya. Begitu juga dengan mereka yang berlatar etnis Minangkabau, Jawa maupun Batak, meski telah berusaha sehalus mungkin untuk tidak kelihatan “logat aslinya”,  namun dalam naskah-naskah yang dibuatnya baik berupa cerpen, sajak, esai, resensi buku dan tulisan lainnya, masih terasa aroma latar etnisnya.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Namun, ini tetaplah sebuah fenomena menarik dan unik, yang barangkali tidak ditemukan di daerah lain. Bahwa salah satu kekayaan Riau yang harus dijaga adalah keanekaragaman budaya itu. Sebab, sejak dulu, dunia sastra Riau tumbuh dan berkembang tidak hanya  digerakkan oleh satu etnis tertentu (meski dominasi Melayu sangat kuat dan itu hal yang memang semestinya terjadi) tetapi oleh keragaman tersebut. Misalnya, di luar nama-nama Melayu seperti Raja Ali Haji, Hasan Junus, Rida K Liamsi, Rus Abrus, Ediruslan Pe Amanriza, BM Syamsudin, Idrus Tintin, Sy Bahri Judin, Al azhar, Fakhrunas MA Jabbar,  Taufik Ikram Jamil, Kazzaini Ks hingga ke generasi Hang Kafrawi atau Syaukani Al Karim, ada terselip beberapa nama dari subkultur lain seperti Sudarno Mahyudin, Husnu Abadi, Sutrianto  hingga Marhalim Zaini atau M Badri (Jawa yang tumbuh di Riau) atau Soeman Hs hingga Pandapotan MT Siallagan  (Batak yang tumbuh di Riau), Oyrinson, Fitri Mayani dan yang lainnya (Minangkabau yang tumbuh di Riau)  dan beberapa penulis lainnya dengan latar subkultur yang berbeda.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya benar-benar tidak sedang memetakan para penulis itu dari sisi etnis atau subkultur. Namun, yang lebih penting adalah bahwa keragaman itu telah dan tetap menumbuhkan semangat dunia sastra dan budaya dengan satu latar besar, yakni Riau. Pernah seorang kritikus asal Jakarta bertanya kepada saya tentang tidak banyaknya karya sastra orang Riau yang dimuat di koran-koran Jakarta yang selama ini dianggap sebagai standar seseorang bisa disebut sastrawan atau tidak. Menurutnya, hanya ada beberapa penulis Riau yang pada masa-masa ini masih aktif menulis di koran Jakarta yakni Taufik Ikram, Fakhrunnas MA Jabbar, Abel Tasman, Marhalim Zaini. Menurutnya, harus ada gerakan budaya dari para sastrawan Riau untuk menjelaskan kepada publik Indonesia bahwa Riau adalah salah satu potensi besar di dunia sastra dan kebudaya. Dan jalan untuk ke sana adalah dengan berkarya dan dimuat di media nasional.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyalahkan apa yang dikatakan kritikus tersebut, namun kemudian saya memberi fakta yang barangkali menjadi bahan renungan dan pemikiran dirinya untuk membaca peta sastra, terutama Riau. Sebagai editor budaya di sebuah harian di Pekanbaru, saya merasakan ada detak yang hidup dan akan terus hidup dari para penulis muda yang tentu saya melihatnya dari naskah sastra yang mereka kirimkan ke Riau Pos. Mereka adalah anak-anak muda yang saya yakin pada masanya nanti akan menemukan dirinya, sedang berada di mana dalam peta sastra Riau atau Indonesia. Anggaplah generasi “tua” secara umur dan pergulatannya di sastra seperti Taufik Ikram, Fakhrunas, Abel atau yang lebih yunior seperti Marhalim tetap akan eksis, tetapi di belakang mereka telah muncul generasi yang sebenarnya berpotensi untuk tumbuh suatu saat nanti. Sebut saja ada Musa Ismail, Gde Agung Lontar, Ramon Domora, Murparsaulian,  Olyrinson, M Badri, Fitri Mayani, Pandapotan MT Siallagan (kini pindah ke Medan), Sobirin Zaini, Ellyzan Katan, Aleila, Fariz Iksan Putra, Saidul Tombang,  Sobirin Zaini, Syaiful Bahri, Muhalib, Jefri Malay (sudah eksis sebagai vokalis Sagu Band) dan beberapa nama lainnya yang terlewatkan di sini. Mereka tetap berkarya dalam berbagai genre baik itu cerpen, sajak, esai, naskah drama dan yang lain. Detak inilah yang saya rasakan tetap terasa sejak lima tahun lalu saya tinggal di Riau dan selama dua tahun terakhir menjaga gawang rubrik Budaya di Riau Pos.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, saya katakan kepada teman kritikus tersebut: apakah dalam kondisi zaman yang sudah berubah dan pertumbuhan media massa begitu pesat di daerah, Jakarta masih merasa dirinya sebagai pusat dari segala yang kemudian dikatakan sebagai “Indonesia” dan “nasional” itu? Bukankah “Indonesia” dan “nasional” itu sudah ada di mana-mana? Bukankah itu hanya keegoisan Jakarta yang tetap ingin disebut sebagai pusat dari segalanya? Barangkali tesis saya ini tidak kuat dan sangat mungkin akan diperdebatkan. Namun, pada masa pertumbuhan sastra di Indonesia, beberapa daerah di Sumatera seperti Padang dan  Medan pernah menjadi pusat atau kantong kebudayaan yang tidak harus tergantung kepada Jakarta.  Saat ini, barangkali, Yogyakarta dan Bandung, telah “menjelaskan” bahwa daerah juga bisa menjadi pusat kebudayaan dengan “perlawanan” budaya yang mereka lakukan lewat berbagai kegiatan budaya, salah satunya adalah dengan intens menerbitkan buku-buku budaya, tanpa harus secara lantang meneriakkan kata perlawanan.***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Buku Tafsir Luka ini diterbitkan bukanlah dengan membawa beban besar sebagai alat untuk perlawanan itu. Buku kumpulan cerpen, sajak dan esai yang pernah diterbitkan di rubrik “Budaya” harian Riau Pos sepanjang tahun 2005 ini, hanyalah ingin menjadi pemacu bagi para penggiat sastra dan budaya di Riau untuk terus bercermin, juga sebagai pencatat waktu perjalanan karya selama setahun. Tidak semua cerpen, sajak dan esai yang terbit di Riau Pos sepanjang tahun 2005 masuk dalam kumpulan ini, sebab tetap ada penilaian dan seleksi yang untuk menentukan lolos atau tidaknya, penilaiannya sangat relatif.&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, seperti dalam kumpulan cerpen tahun 2004, Seikat Dongeng Tentang Wanita, buku Tafsir Luka ini juga mencoba mengakomodasi para penulis lokal Riau, terutama untuk cerpen dan sajak. Sedang untuk esai, munculnya beberapa nama dari luar Riau seperti Wannofri Samry (Padang), pertimbangan yang diambil adalah dari nilai guna naskah bagi pembaca secara luas. Buku ini, jelas bukan sebuah karya yang istimewa dan terbebas dari kesalahan. Namun, yang istimewa, menurut saya, adalah eksistensi dari Riau Pos sendiri yang hingga hari ini selalu tertib dan tetap memberikan apresiasi kepada para sastrawan/budayawan daerah ini untuk terus berkarya dan kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku kumpulan cerpen, sajak dan esai terpilih ini. Jelas, dengan kata “terpilih” berarti ada yang istimewa dari karya-karya yang termaktub dalam buku ini karena tentu menyisihkan karya yang tidak terpilih dengan segala relativitas penilaiannya.***&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;Hary B Kori’un&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt; adalah editor buku Kumpulan Cerpen, Esai dan Sajak Terpilih Riau Pos 2005, Tafsir &lt;/span&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Luka.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt; &lt;em&gt;Tulisan ini dikutip dari Riau Pos, 18 Desember 2005&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/30390402-115163933696773718?l=resensi-badri.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://resensi-badri.blogspot.com/feeds/115163933696773718/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=30390402&amp;postID=115163933696773718' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/115163933696773718'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/30390402/posts/default/115163933696773718'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://resensi-badri.blogspot.com/2006/06/sebuah-pengalaman-bukan-memetakan.html' title='Sebuah Pengalaman, Bukan Memetakan'/><author><name>badri</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13844119594720130127</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://photos1.blogger.com/blogger/7860/3183/1600/drieoke.5.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
