Oleh Hary B Kori’un
Namun, karya berkualitas yang diharapkan lahir dari itu semua dan akan munculnya sastrawan yang memiliki keinginan untuk berkarya lebih baik lagi, tak juga muncul ke permukaan. Lihatlah, dari tahun ke tahun, mereka yang yang menelurkan karyanya hanya “itu ke itu” juga. Mereka yang secara personal maupun karya menjadi nominator Anugerah Sagang, juga tak jauh beda dari tahun-tahun sebelumnya.
Ketika Taufik Ikram Jamil dalam beberapa tahun belakangan tak terlihat karyanya muncul di media
Sementara itu, mereka yang lebih muda dari usia maupun pencapaian, juga masih belum mampu bersaing dan memperlihatkan jati dirinya. Pengalaman sebagai redaktur budaya di Riau Pos, membuat saya bisa melihat ritme dan perkembangan sastra di Riau, dari kaca mata media, dan khusus kaca mata Riau Pos. Rata-rata, mereka yang mengirimkan karyanya orangnya tak banyak berubah, dan kualitas karyanya juga belum mencapai avan-garde dan pantas dikedepankan. Banyak yang masih sekedar asal berkarya dan tidak berusaha mencari jati diri (meminjam istilah Hasan Junus) yang menjadi ciri khas dirinya.
Lalu, ke mana Murparsaulian, Hang Kafrawi, Griven H Putra, Syaukani, Gde Agung Lontar, Nyoto, M Badri, Pandapotan MT Siallagan, dan yang lainnya (sekedar menyebut nama) mempublikasikan karyanya? Yang lebih jauh lagi, mengapa, Mostamir Thalib, Sutrianto, Yose Rizal Zen, Wise Marwin dan yang lainnya tak lagi menyiarkan karyanya? Yang menarik, banyak mereka yang dulu sangat aktif bergelut di sastra, kini memilih menjadi pengusaha atau masuk partai dan tak berkarya lagi (hal sebaliknya justru terjadi pada Rida K Liamsi, yang semakin maniak bersastra ketika sukses menjadi pengusaha).
Memang, di tengah memadamnya api dari mereka yang dianggap senior itu, anak-anak muda seperti Sobirin Zaini, Ellyzan Katan, Aleila, Joni Lis Effendi, Syaiful Bahri, Muhalib, Fariz Iksan Putra dan yang lainnya masih terus berkarya dan bekerja keras untuk mencari identitas dirinya melalui karya, namun tetap karya mereka belum mampu menyusul para seniornya untuk manggung ke media yang lebih banyak pembacanya, yakni media nasional. Memang, dalam manifesto sastra pedalaman yang muncul di tahun awal 1990-an, media nasional dianggap tidak begitu penting dalam membangun eksistensi dunia sastra kita sebab bagi sastrawan, di manapun menyiarkan karya, dan apapun jenis medianya, tetap memperlihatkan eksistensinya sebagai pengarang. Tetapi, jelas, kita tidak bisa menutup mata bahwa sebuah karya yang dibaca oleh audiens yang lebih banyak dan luas, sangat berpengaruh pada eksistensi karya dan pengarangnya.
Komunitas dan Sanggar
Belakangan, perlawanan terhadap eksistensi media massa nasional sebagai “pembaptis” sastrawan, juga dilawan oleh mereka yang merasa eksis di media maya, seperti situs sastra atau malah mereka yang ramai menyiarkan karyanya di media yang lebih terbatas lagi seperti milis sastra. Milis Apresiasi-Sastra misalnya. Meski baru berusia muda, namun milis ini belakangan menjadi tempat diskusi dan publikasi para sastrawan dari berbagai genre, usia dan tempat tinggal yang menyebar di berbagai belahan dunia, dan banyak juga yang sudah sangat eksis di jagad sastra
Rata-rata dari mereka sudah banyak eksis, mampu menembus media
Banyak milis sastra yang kini bermunculan dan menjadi tempat para sastrawan untuk mengasah kemampuan lewat diskusi dan sebagainya. Misalnya milis Penyair, Cybersastra, Kacangijo, Panggung, Gunung Merapi dan sebagainya. Mereka yang berkutat dengan sastra maya ini kebanyakan merasa nyaman karena mereka terbebas dari ribetnya berurusan dengan redaktur sastra media
Salah satu media untuk menyiarkan karya yang belakangan menjadi pilihan para pengarang (masih di jagad maya alias internet) adalah komunitas blog atau blogger. Blog ini lebih mirip website mini yang bisa dibuat sendiri oleh pemiliknya, tak harus membayar hosting sebagaimana website, dan dengan mudah bisa di-update kapan diinginkan.
Di Riau berapa banyak sastrawan atau personal yang memanfaatkan blog dan milis sebagai sarana publikasi diri dan karya? Saya tak tahu persis, tetapi beberapa sastrawan seperti Fakhrunnas MA Jabbar dan M Badri sudah memilikinya.
Komunitas memang perlu dan menjadi tempat yang baik bagi para pengarang untuk mengasah kemampuan lewat diskusi, pembahasan sastra, tukar informasi dan sebagainya. Di Riau, memang tak banyak komunitas yang intens di situ. Memang beberapa komunitas dan sanggar seperti Forum Lingkar Pena (FLP), Paragraf, Sanggar Selembayung, Senapelan Writers Association (SWA) Latahtuah dan sebagainya, muncul. Tetapi sangat sedikit jumlahnya dibandingkan komunitas yang lahir di Padang, Lampung, Jakarta, Bandung atau Jogjakarta. Hal ini barangkali juga berpengaruhi tingkat kemunculan penulis muda, juga kualitas sastra.
Peran Kritikus
Lalu, adakah peran kritikus dalam perkembangan sastra Riau? Ini yang menjadi tanda tanya besar. Sejauh ini, peran kritikus tak terlihat dalam khasanah sastra Riau karena tidak banyak (jika tak mau disebut tidak ada) yang mau secara serius menjadi kritikus. Padahal, Riau memiliki tiga perguruan tinggi yang memiliki fakultas atau jurusan sastra, meski keguruan. Paling tidak, banyak sarjana sastra yang belajar sastra secara teoritik dan akademis yang memahami dan bisa menilai kualitas sebuah karya. Lalu, ke mana mereka bersembunyi?
Memang, secara berkala, ada satu-dua penulis yang menulis esai di media massa tetapi tidak serta-merta membahas karya secara mendalam sebagaimana kritikus. Mereka kebanyakan juga orang-orang yang menulis karya kreatif seperti cerpen dan puisi, yang tentu menulis esai hanya untuk mengasah kemampuan menulis dan bukan benar-benar ingin menjadi kritikus. Padahal, konon, Riau memiliki orang-orang yang punya kemampuan lebih dalam menilai karya sastra dengan teori akademis seperti Hasan Junus, UU Hamidy, Elmustian Rachman, Al Azhar, Hukmi, dan sekian orang dosen dan sarjana sastra yang setiap tahun dilahirkan oleh Unri, Unilak atau UIR.
Yang menarik, nama Maman S Mahayana belakangan malah melekat dengan sastra Riau, karena dosen satra di Universitas Indonesia yang tinggal di Depok ini sangat intens mengikuti dan mendalami satra Riau. Dalam Cakrawala Sastra Indonesia beberapa tahun lalu di Jakarta, Maman “disewa” oleh DKR untuk memberi pengantar kumpulan dan pembahasa kumpulan cerpen Riau, Pertemuan dalam Pipa, yang diadakan di Jakarta. Sayangnya, karya cerpen yang dipilih oleh DKR ketika itu tidak diambil dari sistem seleksi terbuka dan fair, tetapi mereka yang dipilih oleh DKR. Hal seperti ini sah-sah saja, tetapi mengingat banyak penulis cerpen yang ada di Riau, DKR terkesan pilih kasih dan subyektif.
Namun, di luar persoalan itu, tampilnya Maman sebagai orang yang dipilih untuk membahas, memberi kata pengantar dan mengkritisi karya pengarang Riau, seharusnya menjadi tamparan yang memilukan bagi dunia kritik sastra Riau. Sebab, di daerah yang memiliki sejarah sastra begitu gemilang, dunia kritik sastra Riau ternyata tidak hidup, padahal (sekali lagi) tidak sedikit sarjana dan kritikus yang sebenarnya dimiliki Riau.
Selain itu, Riau juga memiliki lembaga kajian bahasa dan sastra, yakni Balai Bahasa Pekanbaru, yang setiap hari tugasnya meneliti dan menelaah bahasa dan sastra di daerah ini dan mendapat dana cukup besar dai Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Namun, Balai Bahasa Pekanbaru ternyata masih belum memiliki peran berarti dalam kemajuan dunia kebahasaan dan sastra Riau secara umum. Hasil kajian, telaah dan penelitian oleh Balai Bahasa Pekanbaru hanya tersimpan berdebu di perpustakaan atau malah dalam tumpukan kertas apak, karena tidak dipublikasikan kepada khalayak.
Suatu ketika, saat berdiskusi bersama Olyrinson, Budy Utamy dan Marhalim Zaini, saya melontarkan ide: terus berkarya tanpa mempedulikan ada atau tidaknya kritikus sastra. Dan hampir senada mereka menjawab: “Kritikus ada karena ada karya, jadi benar, kita harus terus berkarya dan terus mempublikasikan. Kita berkarya untuk diri kita sendiri dan untuk dibaca oleh masyarakat, dan bukan untuk kritikus atau untuk disimpan di rak-rak apak yang tak terjamah oleh manusia…”
Kritikus sastra Riau, di mana persembunyianmu? Bantulah sastra Riau agar bisa berkembang lebih signifikan lagi.***
Hary B Kori’un adalah wartawan dan penulis novel. Tinggal di Pekanbaru
Sumber: Riau Pos, Minggu, 26 Nopember 2006