Lampung, CyberNews. Puisi “Tamsil Damar Batu” karya Jimmy Maruli Alfian (Lampung) dinyatakan sebagai juara I Krakatau Award tahun 2006 yang diadakan Dewan Kesenian Lampung. Dengan demikian Jimmy Maruli Alfian berhak mendapatkan hadiah sebesar Rp 1 juta.
Selain itu, penyair akan diundang membacakan puisinya pada Pesta Kesenian Lampung bertepatan Festival Krakatau, 29 Agustus 2006 di Graha Wangsa, Telukbetung, Bandarlampung.
“Tamsil Damar Batu” keluar sebagai juara setelah menyisihkan 141 peserta (346 puisi) lainnya yang masuk ke panitia Lomba Cipta Puisi Krakatau Award Dewan Kesenian Lampung yang ditutup 10 Agustus lalu.
Dewan juri—terdiri dari Acep Zamzam Noor, Isbedy Stiawan ZS, dan Budi P. Hutasuhut—yang bersidang 21 Agustus lalu, menetapkan 3 karya puisi lain untuk juara II—IV: “Nyanyian tentang Tujuh Anak Tangga Rumah Panggung” (Anton Kurniawan, Lampung), “Dongeng Poyang Sepanjang Sungai” (Fina Sato, Bandung), dan “Pulau Kampung Pukau Lampung” (Hasan Aspahani, Batam).
Sementara itu, dewan juri memilih 6 (enam) nominasi yaitu: “Malam Jaga Damar” (Komang Ira Puspitaningsih, Yogyakarta), “Bulan Menawan di Keratuan” (Muhammad Badri, Bogor), “Bakauheni dan Secangkir Kopi: Aroma Nostalgia” (ST Fatimah, Jawa Timur), “Mimpi Potong Rambut” (Lupita Lukman, Lampung), “Sebuah Panggung Bernama Lampung” (MT Zuharon, Yogyakarta), dan “Telah Kutitipkan Berkarung-karung Rindu Padamu” (Deny Ardiansyah, Jawa Timur).
Dewan juri juga merekomendasikan 10 karya puisi yang layak apabila panitia berencana menerbitkan buku antologi Krakatau Award. “Kami merekomendasikan kepada DKL agar puisi pemenang dan 10 yang direkomendasikan dapat diterbitkan menjadi buku,” kata Ketua Dewan Juri Acep Zamzam Noor (Jawa Barat). Ia beralasan karena puisi dari lomba yang bertema seperti ini dapat dijadikan sebagai promosi pariwisata dan seni budaya.
“Selain itu, puisi-puisi yang masuk juga sangat menarik. Artinya, unsur-unsul lokal (lokalitas) sudah bukan tempelan lagi, tapi sudah masuk ke persoalan budaya dengan pengetahuan, pengalaman, dan dengan intensitas. Sehingga simbol-simbol budaya yang muncul dalam puisi tak lagi terkesan tempelan, bahkan terjadi jalin-menjalin dan tetap memiliki benang merah sehingga puisi tak lepas dan berceceran,” katanya.
Oleh karena itu, ia berharap lomba semacam ini perlu dipertahankan sebagai sebuah tradisi yang akan menjadi identitas budaya Lampung. Sehingga peserta dari luar Lampung harus benar-benar mempelajari dan mendalami budaya-budaya di Lampung.
Isbedy Stiawan ZS menambahkan, puisi-puisi yang masuk terutama yang terpilih nominasi adalah puisi-puisi yang kuat pada lokalitas—dalam hal ini, seni budaya, adat, dan wisata yang ada di Lampung. Lokalitas tak sekadar pemanis atau untuk dipas-paskan.
“Para penulis benar-benar menghayati, dan bahkan ada yang sampai menafsir ulang masalah tradisi. Misalnya, puisi ‘Tamsil Damar Batu’-nya Jimmy Maruli Alfian,” jelas Isbedy dalam siaran pers Dewan Kesenian Lampung, Rabu (23/8).
Sementara M. Arman AZ, sekretaris pelaksana, menjelaskan peserta Krakatau Award tahun 2006 melebihi peserta lomba puisi serupa yang diadakan tahun 2004. Peserta tahun ini berasal berbagai propinsi, seperti DI Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, NTB, Bali, Madura, Riau, Kalsel, dan Sulsel.
Hal itu membuktikan bahwa lomba cipta puisi bertema (wisata dan senibudaya) memang menarik dan menantang khalayak. “Karena itulah, pengumuman pemenang terlambat sehari dari yang dijanjikan: 20 Agustus 2006. Untuk itu panitia meminta maaf,” ujar cerpenis yang anggota Komite Sastra DKL.( mh habieb shaleh/Cn08 )
Berikut selengkapnya Keputusan Dewan Juri Lomba Cipta puisi Krakatau Award 2006 (Acep Zamzam Noor, Isbedy Stiawan ZS, dan Budi P. Hatees):
Juara I
Jimmy Maruli Alfian (Lampung)
Judul "Tamsil Damar Batu"
Juara II
Anton Kurniawan (Lampung)
Judul "Nyanyian tentang Tujuh Anak Tangga Rumah Panggung"
Juara III
Fina Sato (Bandung)
Judul "Dongeng Poyang Sepanjang Sungai"
Juara IV
Hasan Aspahani (Batam)
Judul "Pulau Kampung Pukau Lampung"
Enam nominasi adalah:
1. Malam Jaga Malam -- Komang Ira Puspita (Bali)
2. Bulan Menawan di Keratuan -- Muhammad Badri (Bogor)
3. Bakauheni dan Secangkir Kopi: Aroma Nostalgia -- St. Fatimah (Jawa Timur)
4. Mimpi Potong Rambut -- Lupita Lukman (Lampung)
5. Sebuah Panggung Bernama Lampung -- MT Zuharon (Yogyakarta)
6. Telah Kutitipkan Berkarung-karung Rindu padamu -- Deny Ardiansyah
Selain pemenang dan nominasi, dewan juri juga merekomendasikan sepuluh naskah puisi jika ingin dibukukan. Kesepuluh judul dan penyair itu adalah:
1. Pulang -- Endang Supriadi (Jakarta)
2. Manik dari Pugung Raharjo -- Dian Hartati (Bandung)
3. Tunggu Aku di Bakauheni -- Muhammad Badri (Bogor)
4. Cindai Bersulam Tapis -- Krissanta Daria Anni (Bandung)
5. Wasiat Leluhur -- Elya Harda (Lampung)
6. Solilokui -- Satmoko Budi Santoso (Yogyakarta)
7. Tenung Asmara Telukbetung -- Asrina Novianti (Jakarta)
8. Menanti Buih Kalianda -- Oggoy el Fitra (Padang)
9. Kota Kenangan -- Sunlie Thomas Alexander (Yogyakarta)
10. Lampung dalam Secangkir Kopi -- Tulus Jatmiko (Yogkakarta)